-->
lm2ehI3jonma4uzm1pDxTuKLeJW1muj7wMTB5q1K

Ngaji[combine]

Baper[oneright]

Review[oneleft]

Cerpen[three](3)

Lifestyle[hot](3)

Kisah[two]

Aksara[dark](3)

    Page

    Bookmark

    Sarung Santri

    cerpen   Kapal mulai penuh. Kursi satu persatu diduduki. Rata-rata yang menaiki kapal Very itu orang Madura. Mereka ingin pulang ke kampung halaman setelah lama pergi merantau untuk mencari sebutir nasi. Kini hati mereka berdebar, setengah jam lagi mereka akan menginjakkan kaki di pulau Madura. Hati mereka semakin gusar ingin lekas sampai, saat mereka memandang pulau itu. Terlihat di sebrang sana rumah-rumah yang dikelilingi pohon hijau. Mereka duduk tenang. Wajah mereka terlihat lesu. Mungkin karena perjalanan mereka sangat jauh.
    Di pelabuhan kamal itu, panas begitu menyenggat. Hawa gerah. Apa lagi pada musim kemarau seperti ini. Di tambah lagi air laut keruh. Membuat hati ini semakin galau saja. Pantai yang tidak istimewa. Pantai yang biasa-biasa saja, tidak memiliki keindahan. Dizan yang sudah duduk di kursi kapal Very itu membuka kancing paling atas Baju luarnya, berharap ada angin yang masuk, sehingga mengurangi gerah yang tak karuan. Ia pandang adik sepupunya, begitu ceria meski hawa tak bersahabat. Ia tidak tahu pasti umur adiknya itu, kalau ia reka-reka mungkin masih berumur delapan tahunan.
    “Adik panas ya..?” Tanya Dizan.
    “Ea dikit kak.”
    “pengen minuman gak?”
    “Ea kak, adik haus neh.”
    “Sana beli di depan tuh.” Kata Dizan sambil menyodorkan uang kepada Adiknya. Dizan gemes melihat adiknya tersenyum. Wajahnya lucu. Meski kadang dia jengkel sendiri karna adik sepupunya itu bandelnya bukan kepalang.
    Mata Dizan tiba-tiba mendapati seorang gadis tergesa-gesa sekali. Gadis itu duduk tepat di depannya. Dizan terperanjat. Baru kali ini ia duduk dekat sama cewek. Hatinya berdetak. Darah mudanya memerah. Untuk menenangkan hati, Ia pandangi toko kecli yang menjual minuman. Ia ingin menghilangkan rasa canggungnya dengan memandang adik kecilnya. Namun ia tidak melihat sang adik. Ia kaget. Ia melototi semua arah, tidak ada. Hatinya sedikit bingung. Ia berdiri untuk mencari adiknya. Tidak sampai melangkah, mata Dizan mendapati adiknya duduk di kursi paling kiri, dekat jendela. Adik yang masih SD itu menikmati minumannya sambil melihat ke laut. Dizan tersenyum. Lalu ia duduk lagi.
    Kapal mulai merengsek memecah selat Madura. Gedung-gedung yang berjejeran di samping kapal satu persatu berlalu. Dizan menoleh ke kiri, ia mendapati kapal-kapal bersar berlabuh. Entah kapal apa. Mungkin kapal yang akan berangkat ke Banjar masin atau ke Kalimantan. Setelah puas, Dizan menuleh ke samping kanan, tampak jembatan Suramadu memanjang. Tegap bagai petinju Amerika. Tampak mubil-mubi yang lewat seperti semut. Dizan hanya diam. Menurut informasi yang ia baca, Suramadu dibangun untuk memajukan ekonomi Madura, namu ada juga yang bilang Suramadu dibangun untuk menghancurka islam di sana. “Naudzubillah.” Hati dizan berbisik. Dia memohon kepada rabnya semuga islam di Madura tetap kuat, tidak pernah pudar sampai hari kiamat.
    Dizan menunduk. Matanya memandag kedua telapk tangannya. Sesakali dia menatap kedepan. Ia melihat gadis di depannya dari belakang. Gadis itu mengenakan baju merah sedikit ketat. Memakai celana pensil. Rambutnya hitam terurai. Dizan ingin memandang wajahnya. Tapi bagaimana bisa. Gadis itu menghadap ke depan. Tanpa sengaja ia melihat kaca bening di depan sang gadis. Kaca tempat makanan senac dipajang. Terlihat remang-remang wajah putihnya. Cantik. Belum pernah ia melihat wajah secantik dia. Tanpa terasa, gadis manis itu juga melihat ke kaca. Mata mereka bertemu. Hati Dizan berdebar. Ia tertunduk malu. Ia mengngakt wajahnya lagi berpura-pura melihat adiknya. Tampak sang gadis mencuri-curi melihat Dizan lewat kaca. Dizan salah tingkah. Ia tersenyum kegeringan.
    Gadis cantik itu bangkit. lalu pindah ke kursi bersebelahan dengan adik Dizan. Ia terlihat sibuk dengan HPnya. Dizan menunduk. Sesekali Dizan memandangnya. Ia heran. Setiaip kali menoleh kearah gadis, ia mendapati gadis itu juga memandangnya sehingga mata mereka bertemu. Oh, menusuk dada. Pandangan yang begitu tajam terasa. Dizan yakin, gadis itu juga memerhatikannya. Ada rasa ingin dalam hati dizan. ingin berkenalan. Terlintas dalam benak Dizan untuk menghampiri gadis itu, menyapanya. Menanyai namanya dan alamat lengkapnya.
    Kapal terus berjalan. Pulau garam itu semakin mendekat. Lima belas menit lagi mungkin sampai. Para penumpang masih santai. Namun ada pula yang beranjak turun ke lantai bawah untuk siap-siap meniggalkan kapal. Dizan ingin menghampiri gadis itu sebelum kapal sampai di pelabuhan Kamal. Dia berdiri. Sarungnya berkibar bak bendera merah putih di atas tiang. Ia tersadar. Ia duduk kembali. Ia melihat lagi kearah sarungnya. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri. Ia seorang santri. Sarung adalah lambang kesucian. Songkok lambang kehormatan. Jika ia menghampiri gadis itu, sama saja dengan menanggalkan kesucian dan kehormatannya. Tapi, ini kesempatan. Kapan lagi akan bertemu gadis cantik. Kalau disia-siakan, mubadzir. Tidak, Kesucian lebih penting dari segalanya. Kehormatan tidak ada duanya. Hati Dizan terus bertengkar. Akal, Hawa Nafsu dan Hatinya kini beradu kekuatan. Keingiana Dizan masih belum pupus. Ia masih ingin berkenalan. Ia lemparkan pandangannya, gadis itu sedang mengetik hpnya. Hatinya berdesir. Astaghfirullah. Dizan beristighfar. Ia palingkan wajahnya memandang langit-langit kapal. Fikirannya masih pro-kontra. Hatinya berkecamuk. Sekoyong-koyong angin berdesir kencang. Memeluk tubuhnya yang gerah. Sejuk seketika. Sarungnya berkibar mengikuti terpaan angin. Melambaikan kesucian yang putih. “Sarung.... sarung....” mulut Dizan berucap. “Baiklah...” lanjutnya.
    “Santri ya..?” terdengar suara menyapa Dizan. Ia menoleh ke asal suara. Astaghfirulullah, gadis cantik itu. Dizan hanya bisa mengernyitkan dahi. Ia tidak sadar kapan gadis pindah ke sampingnya. Ia pun tidak tahu apa maunya. Mungkinkah ini pertanda? “Tidak, aku harus bersarung.”pekik hati dizan mantap.
    “Ea...” suara Dizan menjawab pertanyaan cewek itu.
    “o....., boleh nanya neh?”
    “boleh, emang mau nanya apa.?” Kata Dizan sambil mengagnggukan kepalanya.
    “Kenapa wanita itu harus berkerudung?”
    Dizan diam. Matanya berparkir di sudut atas pertanda mengingat sesuatu. Bibirnya tersenyum. Ia menemukan jawabannya.
    “Begini,” Dizan memulai merangkai kata. Gadis siap mendengarkan. “Wanita itu indah. Wanita bagai bunga mawar yang baru mekar. Siapa saja yang melihat bunga itu pasti hatinya bahagia. Agar bunga itu tidak layu, maka harus dijaga, harus dijaga dari sentuhan-sentuhan tangan jalang. Nah, agar wanita tetap indah, tetap suci dan tetap cantik, maka ia diharuskan menutup aurat.” Dizan menjelaskan panjang lebar.
    “Kalau aku memakai Jilbab bukan tambah cantik mas, tambah jelek.” Sahut gadis.
    Dizan tersenyum manis mendengar perkataan itu. Ia membuka Tasnya dan mengambil sebuah kerudung. Ia membelinya untuk Adik perempuannya.
    “Coba ini pakai.” Kata Dizan.
    “ah,..”
    “Kenpa? Coba aja.” Pekik Dizan menantang.
    Dengan ragu, Gadis mengambil kerudung putih itu. Lalu memasngnya di kepala. Kedua tangannya memegang dua sisi kerudung dan merapatkan di bawah dagu, sehingga kerudung itu seimbang. Dizan tersenyum.
    “Kok tersenyum?” celetuk Gadis itu.
    “Gak ada apa-apa. Kamu cantik kayak wanita surga” Kata Dizan. Cewek itu tersenyum. Hati Dizan terasa sejuk. Ia langsung memalingkan pandangannya. Ia takut hatinya akan berharap.
    “Kerudung ini ku hadiahkan untukmu. Semuga kau benar-benar menjadi wanita surga.” Ucap Dizan.
    “Terima kasih banyak ya....” Kata gadis itu dengan menyungging senyum manis.
    “Kayaknya udah samapi neh. Aku duluan ya..” kata Dizan sambil meletakkan tali tasnya di bahu. “Semuga kamu benar-benar menjadi bidadari surga.” Lanjut Dizan. Cewek itu tersenyum. Sedangkan Dizan mulai melangkah pergi menggotng adiknya.
    “Nama kamu siapa.” Suara cewek itu mendarat di telinga Dizan. Dizan menoleh. “Izer....” jawab Dizan sekenanya sambil terus melangkah. Dizan tersenyum memikirkan jawabannya.
    Izer... atau Sarung....

    Oleh: Saif El-Syadiri
    Posting Komentar

    Posting Komentar