Menang tapi Kalah

Tadi siang, TPA tempat saya ngajar ikut lomba. Lomba MUSAMMA. Musabaqah antar Madrasah yang ada guru tugas dari Sidogiri. Semua kebutuhan lomba pun dari Sidogiri. Mulai dari hadiah sampai juri-juri lomba. Tuan rumah hanya menyediakan tempat dan fasilitas saja. Begitulah bentuk kepedulian Sidogiri kepada pendidikan agama.
Di tengah-tengah berjalannya lomba, saya merenung. Ternyata, di sudut kota Surabaya masih ada teriakan-teriakan ilmu agama. Di sudut bangunan yang menjulang, lampu gemerlap, dan kehidupan wah-wah ada getaran-getaran hati karena ilmu agama. Masyaallah. Saya tergugah. Hati saya mengharap, mudah-mudahan saya termasuk orang yang berkecimpung di dalamnya. Menjadi kaki tangan pesantren Sidogiri. Amin.
***
Setelah acara lomba selesai, saya terdiam. Saya kasihan pada GT dan PJGT Madin tempat saya ngajar. Pasti susah, sedih, dan kecewa. Ternyata, sekian yang dikirim untuk mengikuti lomba tidak ada yang juara. Saya menahan detak jantung yang mulai kencang. Bagi saya, kekalahan sudah biasa. Saya memang tidak pernah juara saat mengikuti lomba.

Namun, hati saya tetap kecewa. Kecewa kepada diri sendiri. Hati dan pikiran saya pun mulai mengoreksi. Apa penyebab semua ini. Saya yakin, saya termasuk orang yang menyebabkan Madin temapt saya ngajar gagal. Saya cari kesalahan saya. Kekurangan saya. Sayapun mengetahuinya. Tapi, saya malu mengakuinya. Dasara mansuia!
Tak selang beberapa lama, GT datang. Wajahnya memerah. Ada gurat kecewa dan sedi di setiap sudut wajahnya. “Telinga saya panas,” ucapnya. Pertanda betapa susahnya dia. Saya diam saja. Karena pada situasi seperti itu, tidak aday sikap yang paling baik selain diam. Andai saya menyabar-nyabarinya, hatinya pasti tidak sertus persen menerima. Masih ada kekecewaan yang mendera. Andai saya menyalahkannya, pasti dia tambah down. Lebih baik saya diam saja.
Kesedihan saya semakin menjadi, saat bertemu dengan Pak Ali, PJGT. Memang tidak marah. Tapi, wajah beliau terliah begitu sayu. Tanpa senyum sedikitpun. Saat berbicara pada saya, suaranya datar-datar saja. Tidak pernuh geirah seperti biasanya. Saat bercerita keapda saya. Saya tahu, beliau juga kecewa.
Ditambah lagi, Madin sebelah memenangkan tiga lomba. Madin yang selama ini saling bersaing. Tentu, hal ini akan menambah pamor Madin tempat saya ngajar itu menurun. Kalah pada Madin sebelah. Padahal, dulu-dulunya Madin tempat saya ngajar, katanya selalu unggul dari Madin sebelah.
Sesampainya di Madin temapt saya ngajar, saya baca-baca buku. Lalu tertidur. Saya terbangun ketika dzikir-dzikir sebelum adzan berbunyi lantang. Kemudian saya bangun dan wudu. Lalu siap-siap salat Ashar. Setelah salat, orang-orang Madin tempat saya mengajar berkumpul. Termasuk PJGT. Saya tidur-tiduran sambil baca buku tidak jauh dari perkumpulan itu. Sayup-sayup saya mendengar obrolan mereka. Obrolannya tentang kekalahan kita. Kenapa kalah? Dan seterusnya.
Saya mendengar obrolan itu dengan hati berdetak-detak. Saya terdiam. Ternyata, mereka membicarakan tentang pendidikan Madin tempat saya mengajar. Tepatnya, mengoreksi. Mengunggakpakan kekurangan-kekurangan aktivitas belajar mengajar di Madin ini. Di samping saya sedih, saya juga bahagia. Ternyata, kekalahan dalam lomba ini ada baiknya. Orang-orang Madin sedikit-sedikit ikut memikirikan bagaimana seharusnya Madin kedepannya. Sungguh, saya bahagia dengan semua ini. Sebab, saya juga terkoreksi.
***

Kekurangan aktivitas belajar mengajar di Madin tempat saya mengajar, diantaranya, guru kurang disiplin. Murid tidak punya kita. Tidak ada figure yang disegani oleh murid. Membaca do’a sebelum belajar mengajar terlalu lama sehingga menghabiskan banyak waktu. Pakaian santri kurang rapi. Guru kurang bekerja sama. Santri telat Isyak karena main-main saat wudlu. Akhlak santri kurang baik. dll

Related

My Story 7992652837881325945

Post a CommentDefault Comments

emo-but-icon

Ads

Hot in week

Recent

Comments

randomposts
item