Aku Mengerti Arti Segelas Kopi

Pada suatu hari, saya janjian dengan teman. Kita ngopi bareng. Ngobrol ngalor-ngidul. Tapi, setiap saya pulang dari ngopi, ada rasa yang berbeda: semangat membara. Entahlah.

Seperti biasa, dalam ngopi kali ini saya ngobrol dengannya. Menceritakan aktivitas saya. Kadang, berupa curhatan. Teman saya itu juga demikian. Namun, rasa-rasanya, cerita dia lebih bermakna dari pada cerita saya. Dan, ceritanya benar-benar menambah pengalaman bagi saya.

“Tahun ini saya menargetkan menulis dua buku,” ku bilang rencana saya kepadanya.

Dia mendengarkan. Lalu memberi masukan.


“Jika kita ingin sukses, kita harus punya tiga hal. Pertama, keinginan kuat. Kedua, sabar. Ketiga, tawakkal,” jelasnya.

Lalu, dia menceritakan bahwa tiga hal itu pernah dia lakukan. Yaitu, pada waktu dia ingin kuliah ke luar negeri. Dulu, dia ingin kuliah ke al-Ahqaf, Yaman. Tapi, karena di Yaman sedang terjadi perang, dia gagal berangkat.

Tapi, keinginan itu tidak pupus. Keinginannya begitu kuat. Dia pun sering tenggelam dalam tetesan air mata munajat. Selanjutnya, dia menemukan jalan. Kuliah di Arab Saudi. Tapi, ketika minta restu kiai, dia tidak diperbolehkan. Sebab, Saudi gembongnya aliran Wahabi. Lagi-lagi, teman saya itu tidak putus harapan. Dia tetap sabar dan tawakkal. Pada akhirnya, Allah memberinya jalan lain. Kuliah di Al-Azhar, Cairo, Mesir. Dan, sebentar lagi, jika Allah menghendaki, dia akan berangkat.

“Jadi, ketika Allah menutup satu pintu, kadang Allah membukan pintu yang lain,” tukasnya.

Ah, saya jadi teringat tulisan Asma Nadia. Dalam salah satu Novelnya, Asma Nadia juga bilang begitu. Meski tidak sama persis.

Mungkin, selama ini saya tidak memiliki tiga hal di atas. Saya dulu sama-sama ingin kuliah ke luar negeri, Al-Ahqaf, Yaman. Tapi, setelah mendapatkan halangan bertubi-tubi, saya menyerah sendiri. Keinginan saya kurang kuat.

 Ada hal lain yang saya ambil dari teman saya itu. Katanya, dalam munajat heningnya, dia sering berdoa agar bisa berkhidmah pada kiai. Dia berdoa seperti ini, “Ya Allah, panjangkan umur kiai. Jangan wafatkan beliau sampai beliau tahu kalau saya mengabdi kepada beliau.”

Diantara doanya lagi, “Ya Allah, panjangkan umur kedua orang tuaku. Dan, jangan wafatkan mereka sebelum mereka tahu bahwa aku sukses.”

Mendengar ceritanya, saya mengangguk-ngangguk. Mata saya berkaca-kaca. Lalu, saya alihkan pandangan saya ke sebuah gelas di depan saya. Kopinya sudah habis separuh. Saya pun jadi mengerti, inilah arti segelas kopi. Dan mungkin, setiap oran memiliki arti berbeda.

Pada suat malam, saat suara-suara tak lagi terdengar, tangan saya menengadah ke langit. Dengan penuh harap, saya panjatkan munajat panjang. Tidak lupa saya panjatkan dua munajat di atas,

“Ya Allah, panjangkan umur kiai saya. Jangan wafatkan beliau sebelum beliau tahu bahwa saya mengabdi kepada beliau.”

Tanpa terasa, air mata saya menetes. Begitu dalam rasanya arti doa ini. Sekilas, saya teringat wajah kiai, postur tubuh kiai yang sederhana. Kemudian, saya panjatkan doa yang kedua,

“Ya Allah, panjangkan umur kedua orang tua saya. Jangan wafatkan mereka sebelum mereka tahu bahwa saya sukses.”

Kembali air mata saya meleleh…….

Kata teman saya, jika dia ingat doa ini, dia selalu semangat.

Semoga bermenfaat….! Amin.

Related

My Story 4224637579477777032

Post a CommentDefault Comments

Koment yuk!!

emo-but-icon

Ads

Hot in week

Recent

Comments

randomposts
item