Perempuan Berpendidikan Tinggi, Tapi Takut Gak Dapat Jodoh


"Kak, aku takut, si doi gak mau mendekat karena aku S-2."

Begitulah kira-kira curhatan salah satu teman perempuanku. Kita ngopi bertiga. Aku, temanku laki-laki, dan dia perempuan.

Kami akrab karena organisasi. Ya, dulu kita pernah aktif di organisasi kepenulisan. Dia organisasi kampusnya, aku di organisasi kampusku.



Sesekali kita ngopi bareng. Dia yang bayarin. Hehe. Aku dan teman laki-lakiku itu sering dapat gratisan.

Banyak tema yang kita bicarakan. Mulai dari masalah akademik sampai masalah jodoh.


Yang menarik, dia takut banget tidak dapat jodoh karena berpendidikan tinggi. Takut jodohnya sungkan untuk melamarnya.

Waduh, perempuan berpendidikan tinggi kok takut gak dapat jodoh? Iku piye. Seharusnya kan malah gampang dapat jodoh.

Katanya, dia punya tetangga yang gagal berjodoh karena si tetangga sudah lulus S-2. Calon suaminya bukan lulusan S-2. Akhirnya minder.

"Ya aku takut jugalah kak. Jodohku gak mau mendekat," katanya.

Sampai di sini saya masih mendengarkan saja. Sesekali menimpali.

"Saya tuh kak, kuliah S-2 cuma ingin ngisi waktu aja. Kan waktuku longgar. Selesai ngajar, aku kuliah," katanya.

"Andai nanti nikah, titelku gak akan saya masukkan di undangan," lanjutnya.

Aku tertawa mendengar kalimatnya ini. Sampai segitunya. Aku pun mulai menjawab curhatannya sesuai pengalaman dan pengetahuanku.

Memang, ada laki-laki yang tidak berani mendekati perempuan yang lebih tinggi darinya. Baik itu secara akademik, sosial, dan lainnya.

Bukan karena tidak ingin punya istri yang berkualitas, tapi karena tahu diri. Kadang juga, karena takut istrinya tidak bisa diajak kerja sama. Takut mau menang sendiri.

Mentang-mentang dia lebih berpendidikan, dia tidak mau menerima masukan. Mentang-mentang dia lebih tinggi sekolahnya, suaminya dia remehkan.

Cerita-cerita seperti ini banyak terjadi di masyarakat. Aku pernah diceritain sama seseorang.

Tapi ada juga yang tidak begitu. Temanku lulusan S-1. Istrinya S-2. Tidak masalah. Mereka baik-baik saja.

Banyak perempuan yang menerima apa adanya. Yang penting baik, bertanggung jawab, dan berani. Hehe

Kisah suksesnya Sayyidah Khadijah sebagai perempuan berderajat tinggi juga menghiasi diskusi kami.

Sayyidah Khadijah adalah perempuan yang sukses. Secara ekonomi, beliau lebih kaya dari Rasulullah. Tapi keluarga Sayyidah Khadijah dan Rasulullah sakinah.

Begitulah diskusi kami. Mungkin, yang terpenting adalah bukan tinggi-tidaknya akademik seorang perempuan, tapi bagaimana dia bisa memposisikan diri ketika menjadi seorang istri.

Kata Cak Nun, "Jadilah perempuan yang keibu-ibuan!"

 Baca juga: Susah Dulu, Sukses Kemudian

Kalau boleh dihubungkan dengan curhatan teman saya di atas, apa salahnya perempuan berpendidikan tinggi? Yang penting dia tidak melupakan fitrahny sebagai ibu, sebagai perempuan.

Mau diajak berdiskusi, mau diajak rembukan, mau diajak susah-bahagia bersama. Bukankah suami dan istri bersatu untuk berjalan beriringan? Saling melengkapi?

Kata Ustadz Salim A. Fillah:

"Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam sebelah kiri. Bukan dari tulang kepala, karena tidak layak hanya menjadikan istri sebagai objek saling berpuja."

 Baca juga: Menjadi Pemuda Karir Fi Sabilillah

 "Bukan pula dari tulang kaki, sebab bukan untuk diinjak dan diperbudak."

"Tetapi wanita diciptakan dari tulas rusuk sebelah kiri; dekat jantung, dekat hati untuk dicintai, dekat ke tangan untuk dilindungi."

***

"Kalau kakak gimana?" Tanyanya membuatku kaget.

"Yah, kalau perempuannya kamu sih oke-oke aja," hehehe. Salam!

Wallahu A'lam...

*Dalam tulisan Perempuan Berpendidikan Tinggi, Tapi Takut Gak Dapat Jodoh ini ada penambahan dan pengurangan cerita.

Baja Juga: Sering Ditanya “Kapan Nikah”? Ini Loh Jawaban yang Kreatif dan Lucu


loading...

Related

My Story 7957141291906693060

Post a CommentDefault Comments

Koment yuk!!

emo-but-icon

Ads

Hot in week

Recent

Comments

randomposts
item