Malu: Kuliah di UNSURI, Wisuda di UNESA


Assalamualaikum teman-teman angkatan 2015 ….

Sudah empat tahun kita kuliah di UNSURI. Suka dan duka sudah kita rasakan. Mengerjakan tugas kelompok, KKN, PPL, dan skripsi sudah kita lakukan semua. Alhamdulillah.

Kita tinggal berbahagia. Sebentar lagi kita akan diwisuda.

Akan tetapi, saya tidak bisa berbahagia. Jujur. Saya tidak bisa. Bukan karena kampus UNSURI tidak dikenal tetangga. Bukan. Bukan juga karena UNSURI kampus swasta. Bukan.

Gedung Rektorat UNSURI

Saya tidak bahagia, bahkan sedih sedalam-dalamnya, karena saya harus diwisuda di gedung kampus miliki orang. Gedung yang ada label identitas orang lain, UNESA.


Kenapa saya sedih? Karena malu. Ya, malu sekali. Saya tidak yakin, kaki ini bisa melangkah untuk berangkat wisuda.

UNSURI Itu Identias Kita

Teman-teman seperjuangan sekalian…

Kenapa saya malu? Karena ini masalah identitas. Identitas berarti harga diri. Setiap orang tidak mungkin rela harga dirinya ‘terganggu’. Apa lagi sampai merasa ‘terlecehkan’.

UNSURI itu identias kita. Identitas yang melekat. Tidak bisa kita copot. Sampai hari kiamat.
Sebelum kita aktif kuliah, kita ikut ospek. Tujuan utama agar kita mengerti identias kita. Agar kita mencintai kampus kecil kita.

Di acara yudisium kemaren, Plt. Rektor UNSURI yang terhormat juga menegaskan cinta itu. Kata beliau kurang-lebih, jaga nama baik UNSURI.

Aneh, setelah identitas itu melekat pada kita, setelah cinta itu ada dalam hati kita, pengelola kampus menginjak-nginjaknya. Mencabik-cabiknya. Entah setan apa yang merasuki mereka.

Coba kita pikir, di wisuda nanti, kita akan menyanyikan hymne UNSURI. Kata “UNSURI” akan disebut beberapa kali. Tapi, gedung yang kita tempati, berlabel identitas kampus lain, UNESA. Apa tidak malu?

Misalnya orang tua kita datang. Mereka tahu kita kuliah di UNSURI. Tapi, wisuda di gedung yang berlabel UNESA. Apa yang hendak kita katakan kepada mereka jika mereka bertanya?

Atau ada teman dekat yang datang. Membawa senyuman persahabatan. Lalu mereka bertanya, “Kuliah di UNESA?” Kita mau jawab apa? Mau dijelaskan mulai sudut mana?

Apa lagi, UNSURI itu tidak ada apa-apanya dibanding UNESA. Orang Surabaya/Sidoarjo saja tidak tahu UNSURI kok.

Coba kita bandingkan, misalnya Repbulik Indonesia mengadakan HUT RI di Malaysia, pantas tidak? Dengan alasan apapun.

Atau Muktamar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) diletakkan di gedung miliki Partai PDI P. Malu tidak? Saya yakin, hanya orang gila yang mengatakan tidak malu.

Kenapa malu? Karena identitas. Ya, identitas yang melekat.

UNESA Lebih Murah dan Bagus

Teman-teman….

Saya pernah bertanya pada BEM/DPM apa alasan wisuda diletakkan di gedung miliki UNESA. Kata ketua panita wisuda, gedung UNESA yang disewa itu lebih murah dan bagus.

Saya tertegun. Terdiam lama. Lalu, muncul pertanyaan-pertanyaan di kepala.

“Apakah uang yang akan kita bayarkan nanti tidak cukup untuk bayar gedung selain Graha UNESA?”

“Apakah kita ini tidak pantas wisuda di gedung yang tidak ada label identitas orang lain?”

“Apakah mahasiswa UNSURI tidak berhak berbangga pada kampusnya sendiri sehingga harus sewa gedung yang ada nama kampus orang lain?”

Bangga pada Kampus Sendiri

Sahabat-sahabat sekalian….

Saya mencoba berpikir lagi. Tentang alasan “lebih murah dan lebih bagus”.

Jika yang kita cari adalah harga yang murah, tentu lebih murah jika tempat wisuda di UNSURI. Di kampus kita sendiri. Tinggal kita sewakan terop. Sudah. Halaman kampus kita luas kok. Insyaallah cukup.

Kalau diletakkan di UNSURI panas, ya cari solusi. AC diperbanyak, misalnya.

Menempatkan wisuda di UNSURI tentu lebih banyak menfaatnya. Pertama, kita tidak malu dan malu-maluin. Kedua, kita bisa berbangga diri. Ketiga, kita bisa mentenarkan nama kampus kita. Kelima, mahasiswa UNSURI bisa mengembangkan entrepreunernya.

UNSURI itu gak bagus. Lebih bagus di Graha UNESA.

Memangnya kenapa kalau UNSURI tidak bagus? Memangnya kenapa kalau Graha UNESA lebih bagus? Kenapa?

Saya bangga kok pada UNSURI. Walaupun sederhana. Orang tua saya mengajari, banggalah pada miliki sendiri walaupun sederhana, dari pada bagus tapi milik orang lain.

Apa gunanya tempat bagus tapi miliki orang lain? Apa gunanya tempat bagus tapi malu-maluin?

Sumpah demi Allah… Saya lebih bahagia wisuda di rektorat, ruang kelas, atau masjid UNSURI dari pada di tempat yang ada label identitas kampus lain.

Demi Allah… Saya lebih rida, uang yang saya bayarkan digunakan untuk mengenalkan UNSURI pada masyarakat, dari pada mengenalkan Graha UNESA.

Oea, ada informasi dari BEM/DPM, Graha UNESA tidak bagus-bagus amat kok. Juga tidak ideal banget. Tidak. Gedungnya masih belum jadi. Tempat wisuda di lantai tiga dan belum ada liftnya.

Sahabat-Sahabat…Ayo bareng-bareng!

Sahabat-sahabat…

Saya tidak tahu harus bagaimana. Saya selalu menunggu kabar baik dari BEM/DPM. Terimakasih untuk teman-teman BEM /DPM yang telah memperjuangkan hak-hak kami (saya).

Saya tahu, perjuangan kalian, mulai dari survey Graha UNESA, survey gedung yang layak untuk tempat wisuda kita, lahir dari idealisme. Lahir dari keikhlasan. Kesuksesan dunia-akhirat untuk kalian. Amin.

Namun, apakah kita mau menerima begitu saja? Tidak! Jika kita bersama-sama, Insyaallah bisa. Bisa pindah tempat. Terserah wisuda di mana. Asal bukan di kampus orang lain.

Bagaimana caranya? Bersatu. Ya, bersatu tolak wisuda di kampus orang lain.  Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Hidup Mahasiswa!
Wassalam…

Saya sengaja menulis curhatan ini untuk sahabat-sahabat. Bukan untuk pengelola kampus. Karena saya yakin, hanya kalianlah yang masih bisa mendengar. Terimakasih sahabat.

#UnsuriKampusKita #LoveUNSURI #MahasiswaUnsuriBukanMahasiswaUnesa
#TolakWisudadiKampusOrang

Related

My Story 3194200171786936903

Post a CommentDefault Comments

emo-but-icon

Toko Buku

Toko Buku
Biografi Syaikh Yasin Al-Fadani, ulama Nusantara yang mendunia. Rp. 55.000

Hot in week

Recent

Comments

randomposts

Profil

item