Menyikapi pemilu Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta

loading...

Alhamdulillah, pemenang pada pemilu Capres-Cawapres pada tahun 2014-2019 M sudah ditentukan KPU. Dengan demikian, kita sudah mempunyai presiden baru yang sah secara formal untuk memimpin Indonesia menuju harapan kita. 

Namun, pasangan Prabowo-Hatta mengatakan dalam pemilu kali ini banyak terjadi kecurangan sehingga beliau menarik diri dari hasil rekapitulasi suara.


Lalu, bagaimana cara kita menyikapi fenomena di atas? Tidak terlalu sulit. Kita harus bersikap seperti berikut:

1)   Damai. Kita, rakyat Indonesia harus saling mencintai. Pertandingan sudah usai. Pemenangnya juga sudah ditentukan. Kewajiban kita sekarang adalah saling rangkul dan berpelukan (asal jangan cowok sama cewek ya….. heheh). 

Seperti waktu pertandingan bola; ketika bermain di lapangan terjadi saling senggol, keputusan wasit tidak diterima dan  lain sebagainya yang intinya agar timnya menang. Namun, setelah bermain, mereka berpelukan. Tak ada permusuhan di antara mereka. Masak kita gak bisa seperti mereka?

2)  Tidak usah ikut-ikut. Tentu, pada pemilu kali ini kita akan menemukan banyak respon baik dari yang pro maupun yang kontra pada salah satu Capres-Cawapres. Nah, pada pertengkaran kali ini, kita pilih diam. Tidak usah ikut-ikut. 

Toh, andai kita ikut berkomentar dengan menjelek-jelekkan yang bukan kita pilih kita tidak akan mendapat apa-apa. Kalau kita penjual pentol, tetap saja penjual pentol. Tidak mungkin karena capres yang kita dukung menang kita berubah profesi. 

Oleh karena itu, diamlah. Tidak usah ikut-ikut apa lagi sampai menjelekkan atau mengatai para kiai. Para kiai adalah orang yang dekat dengan Allah swt.. Tentu, keputusan mereka sudah melalui Istikharah beberapa panjang. Mencaci para kiai sama saja dengan menceburkan diri dalam lubang murka Allah swt..

3) Perjuangan tidak berhenti. Siapapun Presiden Indonesia, berjuang untuk agama Islam harus selalu kita galakkan. Berdakwah, mendidik anak-anak bangsa dan nasyrul-ilmiadalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. 

Jika ada sinyal bahwa PKI akan kembali bercokol di Indonesia, kita lawan. Jika ada dugaan bahwa Syiah akan beranak pinak di Kokop Bangkalan (madura), kita lawan. Kita harus berjihad dan berjuang untuk menjaga agama ini siapapun presidennya.

Catatan Akhir:
Diringkas dari ceramah KH. Romli Tagrinih, Kokop, Bangkalah

Pada acara, mencari Lailatul Qadar, 25, Ramadan, 1435 H. di PP. Tagrinih

Post a CommentDefault Comments

emo-but-icon

Ads

Hot in week

Recent

Comments

randomposts
item