Salah
satu pintu keberkahan hidup adalah berbakti kepada orang tua. Dalam literatur-literatur
Islam, berbakti kepada orang tua tidak hanya mendatangkan pahala. Tapi, merupakan
jalan menuju rezeki tak terduga. Kisah berikut ini mengajarkan betapa beruntung
orang yang merawat orang tua dengan ikhlas.

Kisah berbakti kepada orang tua
Kisah Berbakti kepada Orang Tua yang Mengubah
Hidup
Dalam
Kitab Alfu Qishshah Wa Qishshah, karya Syaikh Hani al-Haj dikisahkan, terdapatlah
seorang laki-laki yang sudah renta. Dia sudah tidak mampu berdiri. Beruntunglah
dia memiliki empat anak yang akan merawatnya.
Suatu
hari, salah satu dari empat anaknya ingin merawat sang ayah seorang diri. Anak
itu meminta izin agar saudara-saudaranya mengizinkan merawat ayahnya. Bahkan,
dia rela tidak mendapatkan harta warisan asalkan bisa merawat ayahnya.
Anak
itu berkata, “Saudara-saudaraku, saya saja yang akan merawat ayah dan saya
rela andaikan tidak mendapatkan harta warisan.”
Tiga
saudaranya memberi izin. Anak itu pun merawat sang ayah dengan sangat baik. Dia
sangat hormat kepada orang yang sangat berjasa dalam hidupnya itu. Dia merawat
sang ayah hingga sang ayah wafat. Dia tidak mengambil sedikit pun harta
warisan. Baginya, bisa merawat ayah tercinta adalah hal yang lebih berharga dan
sangat membahagiakan.
Suatu
malam, anak itu bermimpi bertemu ayahnya. Dalam mimpi itu, sang ayah memerintahkannya
untuk mendatangi sebuah tempat. Kata sang ayah, di tempat tersebut ada uang 100
dinar.
Lalu
anak itu bertanya, “Apakah uang 100 dinar itu berkah?” Tapi sang ayah
tidak menjawab. Anak itu pun terbangun dari tidurnya.
Besoknya,
si anak menceritakan mimpinya pada istrinya. Istrinya menyarankan untuk mendatangi
lokasi yang dititahkan oleh ayahnya. Tetapi, anak itu tidak mau. Karena sang
ayah belum menjawab pertanyaannya, uang 100 dinar itu berkah atau tidak.
Istrinya
mengatakan, ketika uang 100 dinar itu diambil maka uang itu berkah. Karena ketika
uang itu diambil lalu dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, maka uang itu
berkah. Namun, anak itu tetap pada pendiriannya, tidak mau mengambil uang itu.
Di
malam berikutnya, anak itu bermimpi ayahnya lagi. Lalu sang ayah berkata,
“Tidak.” Maksudnya, uang 100 dinar yang ditunjukkan oleh ayahnya tidak berkah.
Di
malam ketiga, anak itu bermimpi bertemu ayahnya lagi. Sang ayah menyuruhnya untuk
mendatangi sebuah tempat untuk mengambil uang sebesar satu dinar, lebih kecil
dari jumlah sebelumnya.
Anak
itu bertanya lagi, “Apakah uang yang satu dinar itu berkah?” Sang Ayah
menjawab, “Iya.”
Keesokan
harinya, anak itu langsung pergi ke tempat yang dititahkan oleh ayahnya. Benar
sekali, di tempat itu ada uang satu dinar. Si anak langsung membawanya ke pasar
untuk belanja kebutuhan.
Di
pasar, Anak itu membeli dua ikan segar. Harganya satu dinar. Ikan itu pun
dibawa ke rumahnya untuk dimakan bersama keluarga. Ketika ikan itu dibelah,
ternyata di dalamnya ada permata yang sangat bagus. Setiap satu ikan punya satu
pertama. Berarti si anak mendapatkan dua permata.
Beberapa
waktu kemudian, ada seorang raja yang mencari permata. Orang-orang pun
menawarkan permata yang dimilikinya. Tapi, raja tidak tertarik. Ketika anak itu
memperlihatkan permatanya, sang raja langsung tertarik. Raja membeli satu
permata dengan harga yang mahal sekali, yaitu dengan emas seberat 30 keledai.
Kemudian,
sang raja juga membeli permata satunya. Dengan harga yang berlipat dari permata
yang pertama. Sang raja ingin dua permata itu dipajang secara bersamaan,
sehingga terlihat sangat indah. Maka, anak itu menjadi kaya raya.
Dalil Al-Qur’an tentang Berbakti kepada Orang
Tua
Dalam
al-Quran, Allah swt. sering membersamakan perintah untuk menyembah-Nya dengan
perintah berbakti kepada orang tua. Hal ini menunjukkan berbakti kepada orang
tua begitu besar pahalanya. Seperti dalam firman Allah:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا
بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu
mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang
ibu-bapa….” (QS. Annisa: 36)
Dalam
ayat lain, Allah juga berfirman:
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا
رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku,
kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu
kecil" (QS. Al-Isra:
24)
Imam
Ibnul ‘Arabi menjelaskan dalam tafsir Ahkam al-Qur’an, ayat ini
memerintahkan kita untuk mendoakan orang tua, baik mereka masih hidup atau
sudah wafat. Kita berdoa kepada Allah agar Allah yang membalas jasa-jasa mereka
dengan mengasihi dan menyayangi mereka. Sebab, sampai kapanpun kita tidak akan
pernah bisa membalas kebaikan orang tua pada kita.
Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua Menurut
Islam
Tentu,
orang yang berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya akan mendapatkan
balasan dari Allah. Allah akan memberinya pahala, kebahagiaan, dan keberkahan
hidup, sebagaimana dalam cerita di atas. Rasulullah saw. juga bersabda:
بِرُّوْا آبَاءَكُمْ تَبِرَّكُمْ
اَبْنَاؤُكُمْ وَ عِفُّوْا تَعِفَّ نِسَاؤُكُمْ
“Berbaktilah kepada ibu-bapak kalian, maka
anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian. Jagalah kehormatan diri kalian, maka
istri-istri kalian juga akan menjaga kehormatan dirinya”. (HR. Imam Thabrani)
Alakullihal, kisah di atas mengajarkan kepada kita,
keutamaan berbakti kepada orang tua tidak hanya berpahala. Tapi, juga sebagai
sumber keberkahan hidup. Begitu banyak dalam kehidupan nyata, seorang anak yang
menyia-nyiakan orang tuanya, hidupnya jadi sengsara. Sementara seorang anak
yang berbakti kepada orang tuanya, hidupnya bersahaja.



Posting Komentar