-->
lm2ehI3jonma4uzm1pDxTuKLeJW1muj7wMTB5q1K

Aksara[dark](3)

    Page

    Bookmark
    Saifuddin Syadiri
    Penulis & Pengkaji Keislaman
    Berkarya untuk menjadi berarti

    Kisah Berbakti kepada Orang Tua: Pintu Rezeki yang Tak Terduga

     

    Salah satu pintu keberkahan hidup adalah berbakti kepada orang tua. Dalam literatur-literatur Islam, berbakti kepada orang tua tidak hanya mendatangkan pahala. Tapi, merupakan jalan menuju rezeki tak terduga. Kisah berikut ini mengajarkan betapa beruntung orang yang merawat orang tua dengan ikhlas.

     

    Kisah berbakti kepada orang tua

    Kisah Berbakti kepada Orang Tua yang Mengubah Hidup

    Dalam Kitab Alfu Qishshah Wa Qishshah, karya Syaikh Hani al-Haj dikisahkan, terdapatlah seorang laki-laki yang sudah renta. Dia sudah tidak mampu berdiri. Beruntunglah dia memiliki empat anak yang akan merawatnya.

    Suatu hari, salah satu dari empat anaknya ingin merawat sang ayah seorang diri. Anak itu meminta izin agar saudara-saudaranya mengizinkan merawat ayahnya. Bahkan, dia rela tidak mendapatkan harta warisan asalkan bisa merawat ayahnya.

    Anak itu berkata, “Saudara-saudaraku, saya saja yang akan merawat ayah dan saya rela andaikan tidak mendapatkan harta warisan.”

    Tiga saudaranya memberi izin. Anak itu pun merawat sang ayah dengan sangat baik. Dia sangat hormat kepada orang yang sangat berjasa dalam hidupnya itu. Dia merawat sang ayah hingga sang ayah wafat. Dia tidak mengambil sedikit pun harta warisan. Baginya, bisa merawat ayah tercinta adalah hal yang lebih berharga dan sangat membahagiakan.

    Suatu malam, anak itu bermimpi bertemu ayahnya. Dalam mimpi itu, sang ayah memerintahkannya untuk mendatangi sebuah tempat. Kata sang ayah, di tempat tersebut ada uang 100 dinar.

    Lalu anak itu bertanya, “Apakah uang 100 dinar itu berkah?” Tapi sang ayah tidak menjawab. Anak itu pun terbangun dari tidurnya.

    Besoknya, si anak menceritakan mimpinya pada istrinya. Istrinya menyarankan untuk mendatangi lokasi yang dititahkan oleh ayahnya. Tetapi, anak itu tidak mau. Karena sang ayah belum menjawab pertanyaannya, uang 100 dinar itu berkah atau tidak.

    Istrinya mengatakan, ketika uang 100 dinar itu diambil maka uang itu berkah. Karena ketika uang itu diambil lalu dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, maka uang itu berkah. Namun, anak itu tetap pada pendiriannya, tidak mau mengambil uang itu.

    Di malam berikutnya, anak itu bermimpi ayahnya lagi. Lalu sang ayah berkata, “Tidak.” Maksudnya, uang 100 dinar yang ditunjukkan oleh ayahnya tidak berkah.

    Di malam ketiga, anak itu bermimpi bertemu ayahnya lagi. Sang ayah menyuruhnya untuk mendatangi sebuah tempat untuk mengambil uang sebesar satu dinar, lebih kecil dari jumlah sebelumnya.

    Anak itu bertanya lagi, “Apakah uang yang satu dinar itu berkah?” Sang Ayah menjawab, “Iya.”

    Keesokan harinya, anak itu langsung pergi ke tempat yang dititahkan oleh ayahnya. Benar sekali, di tempat itu ada uang satu dinar. Si anak langsung membawanya ke pasar untuk belanja kebutuhan.

    Di pasar, Anak itu membeli dua ikan segar. Harganya satu dinar. Ikan itu pun dibawa ke rumahnya untuk dimakan bersama keluarga. Ketika ikan itu dibelah, ternyata di dalamnya ada permata yang sangat bagus. Setiap satu ikan punya satu pertama. Berarti si anak mendapatkan dua permata.

    Beberapa waktu kemudian, ada seorang raja yang mencari permata. Orang-orang pun menawarkan permata yang dimilikinya. Tapi, raja tidak tertarik. Ketika anak itu memperlihatkan permatanya, sang raja langsung tertarik. Raja membeli satu permata dengan harga yang mahal sekali, yaitu dengan emas seberat 30 keledai.

    Kemudian, sang raja juga membeli permata satunya. Dengan harga yang berlipat dari permata yang pertama. Sang raja ingin dua permata itu dipajang secara bersamaan, sehingga terlihat sangat indah. Maka, anak itu menjadi kaya raya.

     

    Dalil Al-Qur’an tentang Berbakti kepada Orang Tua

    Dalam al-Quran, Allah swt. sering membersamakan perintah untuk menyembah-Nya dengan perintah berbakti kepada orang tua. Hal ini menunjukkan berbakti kepada orang tua begitu besar pahalanya. Seperti dalam firman Allah:

    وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

    “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa….” (QS. Annisa: 36)

    Dalam ayat lain, Allah juga berfirman:

    وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

    “dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil" (QS. Al-Isra: 24)

    Imam Ibnul ‘Arabi menjelaskan dalam tafsir Ahkam al-Qur’an, ayat ini memerintahkan kita untuk mendoakan orang tua, baik mereka masih hidup atau sudah wafat. Kita berdoa kepada Allah agar Allah yang membalas jasa-jasa mereka dengan mengasihi dan menyayangi mereka. Sebab, sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa membalas kebaikan orang tua pada kita.

     

    Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua Menurut Islam

    Tentu, orang yang berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya akan mendapatkan balasan dari Allah. Allah akan memberinya pahala, kebahagiaan, dan keberkahan hidup, sebagaimana dalam cerita di atas. Rasulullah saw. juga bersabda:

    بِرُّوْا آبَاءَكُمْ تَبِرَّكُمْ اَبْنَاؤُكُمْ وَ عِفُّوْا تَعِفَّ نِسَاؤُكُمْ

    “Berbaktilah kepada ibu-bapak kalian, maka anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian. Jagalah kehormatan diri kalian, maka istri-istri kalian juga akan menjaga kehormatan dirinya”. (HR. Imam Thabrani)

    Alakullihal, kisah di atas mengajarkan kepada kita, keutamaan berbakti kepada orang tua tidak hanya berpahala. Tapi, juga sebagai sumber keberkahan hidup. Begitu banyak dalam kehidupan nyata, seorang anak yang menyia-nyiakan orang tuanya, hidupnya jadi sengsara. Sementara seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, hidupnya bersahaja.

    0

    Posting Komentar

    Home Ebook Kelas WA Link
    -->