-->
lm2ehI3jonma4uzm1pDxTuKLeJW1muj7wMTB5q1K

Ngaji[combine]

Baper[oneright]

Review[oneleft]

Cerpen[three](3)

Lifestyle[hot](3)

Kisah[two]

Aksara[dark](3)

    Page

    Bookmark

    Sikap Bijak terhadap Perbedaan Pendapat

    Kali ini saya mendapat pengalaman mengenai perbedaan. Bagaimana kita menghadapi perbedaan pendapat dan bagaimana kita menyikapi pendapat orang lain. Tentu hal seperti ini begitu penting. Sebab, bagaimanapun kita tidak bisa hidup sendiri. Kita butuh orang lain. Dan, orang lain sering berbeda dengan kita.
    Adalah dosen saya, Dr. H. Wakhid Efendi, M.Pd.I. Bukan dengan ceramah beliau mengajari perbedaan kepada saya, tapi dengan sikap. Sikap beliau yang bijak dan legowo. Pelajaran ini bermula dari penjelasan beliau tentang kitab Uqud al-Lujjain, karangan ulama Nusantra terkemuka, Syaikh Nawawi al-Banteni. Beliau mengatakan bahwa isi kitab ini menjadikan wanita sebagai obyek bukan mitra. Sehingga, seakan wanita adalah budak suami. Hadis-hadis dalam kitab ini juga tidak sahih bahkan maudlu’. Ternyata, setelah dikaji, kata beliau, kitab ini dikarang oleh seorang pemuda yang dikhianati oleh istrinya.

    Mendengar keterangan beliau ini, ada gejolak di hati saya. Maklum, sebagai alumni pesantren, saya begitu takdzim kepada Syaikh Nawawi al-Banteni. Sebab, di pesantren kitab-kitab beliau (bukan hanya Uqud al-Lujain) dipelajari dan dikaji, serta menjadi I’timad menjalani kehidupan di dunia ini.
    Sayapun angkat tangan untuk berbicara. Beliau mempersilahkan. Ada tiga poin yang saya keritisi. Pertama, tentang pengarang. Saya katakana bahwa pengaran Uqud al-Lujain adalah Syaikh Nawawi al-Banteni. Ulama yang sangat ditakdzimi di lingkungan pesantren. Bahkan, beliau termasuk sanad keilmuan ulama Nusantra. Jadi, tidak mungkin beliau mengarang kitab tersebut karena dikhianati oleh istrinya.
    Kedua, tentang hadis-hadis yang ada dalam kitab Uqud al-Lujain. Hadis-hadis dalam kitab tersebut memang ada yang tidak sahih, tapi juga tidak bisa dikatakan maudlu’. Sebab, setelah dilakukan penelitian –kalau tidak salah oleh santri Lirboyo dan salah satu Ustadz DALWA- ternyata terdapat hadis senada dengan hadis yang ada dalam kitab Uqud al-Lujain. Sehingga sangat gegabah jika mengatakan hadis dalam kitab tersebut bersetatus maudlu’.
    Ketiga, tentang isi. Isi dalam kitab Uqud al-Lujain saya kira tidak mendiskirminasikan istri. Sebab, dalam kitab tersebut juga dibahas tentang hak-hak Istri. Kewaiban suami pada istri. Hal itu tidak patut jika kita katakan diskriminasi pada wanita. Memang, ada riwayat yang memotivasi istri untuk membantu suami. Namun bukan berarti mendiskriminasi istri. Apakah salah jika istri membantu suami? Nggak kan?
    Yang membuat saya terkesima, sikap dosen saya itu yang adem. Beliau mendengarkan dan memerhatikan saya ketika saya berbicara. Dan, setelah saya selesai, beliau menjelaskan pendapat beliau. Kata beliau tidak apa-apa mengkeritisi pendapat. Tapi dengan cara ilmiah. Beliau juga meng-apresiasi saya.
    Lah, mungkin seperti itulah sikap yang harus kita tunjukkan ketika berbeda pendapat dengan orang lain. Agar sama-sama adem. Yang terpenting, memperkuat argumen secara ilmiah.


    Posting Komentar

    Posting Komentar