-->
lm2ehI3jonma4uzm1pDxTuKLeJW1muj7wMTB5q1K

Aksara[dark](3)

    Page

    Bookmark

    Kontroversi Tanah Fadak: Mengapa Abu Bakar Tidak Memberikan Warisan kepada Fatimah? Ini Penjelasan Ulama

     

    Apa itu tanah Fadak? Mengapa Abu Bakar tidak memberikan warisan kepada Fatimah? Simak penjelasan lengkap berdasarkan hadis dan pandangan ulama.



    Tentang Tanah Fadak yang Menjadi Kontroversi dalam Sejarah Islam

    Di antara tuduhan yang diarahkan oleh Syi’ah kepada Sayidina Abu Bakar adalah Sayidina Abu Bakar merampas harta warisan Sayidah Fatimah. Sayidina Abu Bakar telah melakukan kezaliman kepada Sayidah Fatimah.

    Oleh karenanya, Sayidina Abu Bakar patut untuk disalahkan bahkan direndahkan. Yang dimaksud harta dalam masalah ini adalah tanah Fadak, Bani Nadhir dan Khaibar.

    Tanah Fadak adalah sebuah tempat yang berada di dekat Khaibar. Tanah subur ini diperoleh setelah penduduknya menyerah dan tanpa perang. Selain tanah Fadak, juga ada tanah Bani Nadlir dan Khaibar.

    Di masa Rasulullah saw. masih hidup, hasil dari tanah itu diambil oleh Rasulullah saw dan dibuat memenuhi kebutuhan keluarga dengan perkiraan selama satu tahun. Mulai dari istri dan putri beliau. Kelebihan dari itu diperuntukkan untuk kepentingan umat Islam, seperti biaya perang dan pembuatan senjata.

    Setelah Rasulullah wafat, Sayidah Fatimah meminta tanah itu kepada Sayidina Abu Bakar sebagai warisan Rasulullah saw.. Tapi, Sayidina Abu Bakar yang kala itu menjadi khalifah Rasulullah tidak berkenan memberikannya. Alasannya, karena Rasulullah saw bersabda, harta yang beliau tinggalkan menjadi sedekah (untuk kepentingan umat) dan tidak dapat diwariskan.

    Nah, menurut Syi’ah, dalam hal ini Sayidina Abu Bakar salah besar. Bahkan berhak mendapatkan murka dari Rasulullah dan Allah swt.. Sebab, Sayidah Fatimah murka pada Sayidina Abu Bakar.

    Namun, tuduhan Syiah ini terbantahkan oleh fakta sejarah. Sebab, ketika Sayidina Ali menjadi khalifah, kebijakan Sayidina Ali mengenai tanah Fadak itu sama dengan kebijakan Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar. Jika Sayidina Abu Bakar salah, berarti Sayidina Ali juga salah.

    Kebijakan Sayidina Ali yang persis dengan kebijakan Sayidina Abu Bakar tidak hanya tertulis dalam kitab Ahlussunnah Wal Jamaah. Tapi, juga ada dalam kitab Syi’ah.

    Agar lebih rinci, berikut ini kami ulas dengan disertai referensinya:

    Sayidah Fatimah Meminta Warisan pada Sayidina Abu Bakar

     

    صحيح البخاري- طوق النجاة (5/ 139)

    حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام بِنْتَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ إِلَى أَبِي بَكْرٍ تَسْأَلُهُ مِيرَاثَهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِالْمَدِينَةِ وَفَدَكٍ وَمَا بَقِيَ مِنْ خُمُسِ خَيْبَرَ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْمَالِ وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أُغَيِّرُ شَيْئًا مِنْ صَدَقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَالِهَا الَّتِي كَانَ عَلَيْهَا فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَأَعْمَلَنَّ فِيهَا بِمَا عَمِلَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى فَاطِمَةَ مِنْهَا شَيْئًا  فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ

    Dari Sayidah Aisyah: Sesungguhnya Sayidah Fatimah AS putri Rasulullah saw. mengirim (utusan) kepada Sayidina Abu Bakar untuk meminta warisannya dari Rasulullah saw., yaitu harta yang Allah berikan kepada Rasulullah saw di Madinah, tanah Fadak, dan sisa seperlima Khaibar.

    Lalu Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Kami (para nabi) tidak mewariskan, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah. Keluarga Muhammad hanya (mengambil untuk kebutuhan) makan dari harta ini (bukan untuk dimiliki). Dan aku tidak akan mengubah apapun dari sedekah Rasulullah dari keadaan semula sebagaimana di masa Rasulullah saw.. dan aku akan melakukan apa yang Rasulullah lakukan.”

    Maka Abu Bakar menolak untuk memberikan harta itu kepada Sayidah Fatimah. Maka Sayidah Fatimah marah pada Sayidina Abu Bakar..

     

    Khilaf Pemahaman Hadis “Para Nabi Tidak Mewariskan”

    Menurut Ahlussunnah Wal Jamaah, khilaf atau perbedaan pendapat di antara Sayidah Fatimah dan Sayidina Abu Bakar dalam masalah ini adalah perbedaan ijtihad dan khilaf fiqhiyah. Maksudnya, masalah ini bukan perkara pokok agama dan dapat dimaklumi jika ada perbedaan pendapat.

    Dalam hadis di atas dijelaskan, Sayidah Fatimah meminta warisan Rasulullah yang beruapa tanah Bani Nadir, Fadak, dan Khiabar kepada Sayidina Abu Bakar. Tapi, Sayidina Abu Bakar tidak memberikannya.

    Sebab, Sayidina Abu Bakar patuh pada Rasulullah. Rasulullah bersabda, bahwa apa yang ditinggalkan oleh para nabi tidak menjadi warisan yang bisa dimiliki oleh keturunannya, tapi menjadi harta sedekah untuk kepentingan umat Islam.

    Kenapa Sayidah Fatimah masih meminta warisan jika Rasulullah sudah bilang demikian? Sebagian ulama mengatakan, Sayidah Fatimah belum mengetahui tentang hadis itu. Ada juga yang berkata, Sayidah Fatimah sudah tahu tentang hadis itu, tapi pemahaman Sayidah Fatimah berbeda dengan pemahaman Sayidina Abu Bakar.

    Sayidina Abu Bakar berpendapat, semua penginggalan Rasulullah menjadi sedekah. Tidak terkecuali. Sementara Sayidah Fatimah berpendapat, yang menjadi sedekah adalah kelebihan dari kebutuhan sehari-hari dari ahli waris.

     

    Kebijakan Rasulullah dan Sayidina Abu Bakar terkait Tanah Fadak

    Kebijakan Rasulullah mengenai tanah Bani Nadir, Tanah Fadak, dan bagian dari tanah Khaibar adalah Rasulullah saw. mengambil hasilnya untuk menfakahi keluarganya dengan perkiraan selama satu tahun. Istr-istri Rasulullah mendapat bagian, Sayidah Fatimah juga mendapat bagian. Sisanya diperuntukkan untuk kemaslahatan umat Islam, seperti untuk baju perang dan senjata.

    Ketika Sayidina Abu Bakar menjadi khalifah, kebijakan Sayidina Abu Bakar sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Istri dan putri Rasulullah saw. mendapat bagian untuk kebutuhan sehari-hari, sisanya dibuat untuk kepentingan umat Islam.

    Ketika Sayidah Fatimah meminta warisan untuk dimiliki secara peribadi, Sayidina Abu Bakar menjelaskan dengan bijak, bahwa peninggalan Rasulullah tidak bisa diwariskan. Keputusan ini sebagaimana pernah disabdakan oleh Nabi. Meski demikian, Sayidah Fatimah bisa mendapatkan hasil dari tanah Fadak sebagaimana Rasulullah masih ada.

    Dalam Sunan Tirmidzi dijelaskan:

    سنن الترمذي (4/ 157)

     1608 - حدثنا محمد بن المثنى حدثنا أبو الوليد حدثنا حماد بن سلمة عن محمد بن عمرو عن ابي سلمة عن ابي هريرة قال : جات فاطمة إلى ابي بكر فقالت من يرثك ؟ قال أهلي وولدي قالت فما لي لا أرث بي ؟ فقال ابو بكر سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول لا نورث ولكني أعول من كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يعوله وأنفق على من كان رسول الله صلى الله عليه و سلم ينفق عليه

    Dari Sahabat Abu Hurairah: Fatimah datang kepada Sayidina Abu Bakar lalu berkata, “Siapa orang yang akan kamu wariskan?” Abu Bakar menjawab, “Keluarga dan anakku!” Sayidah Fatimah bertanya lagi, “Lalu kenapa aku tidak mendapatkan warisan (dari ayahku)?”

    Sayidina Abu Bakar menjawab, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Kami tidak mewariskan (harta)”. Tapi, aku akan memenuhi kebutuhan orang yang oleh Rasulullah dipenuhi kebutuhannya dan aku akan menafkahkan (tanah fadak itu) kepada orang yang Rasulullah menafkahkan kepadanya..

     

    Istri Rasulullah SAW. Tidak Mendapatkan Tanah Fadak

    Sayidina Abu Bakar juga tidak menyerahkan harta itu kepada istri-istri Rasulullah saw, temasuk Sayidah Aisyah. Jika harta Rasulullah saw., menjadi warisan, tentu para istri Rasulullah juga mendapatkan warisan. Tapi, Abu Bakar tidak menyerahkannya. Kenapa? Karena mengamalkan sabda nabi. Sebagaimana dalam hadis:

    «صحيح مسلم» (٣/ 1379):

    «٥١ - (١٧٥٨) حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ: إِنَّ أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَدْنَ أَنْ يَبْعَثْنَ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ، فَيَسْأَلْنَهُ مِيرَاثَهُنَّ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ عَائِشَةُ لَهُنَّ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا فَهُوَ صَدَقَةٌ»»

    Dari Sayidah Aisyah: sesungguhnya, istri-istri Rasulullah setelah Rasulullah wafat ingin mengutus Utsman bin Affan kepada Abu Bakar untuk meminta warisannya dari Nabi. Lalu, Sayidah Aisyah berkata kepada mereka: Bukankah Rasulullah sudah bersabda, “Kami (para nabi) tidak mewariskan. Apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah!”

     

    Kebijakan Sayidina Ali sama dengan Kebijakan Sayidina Abu Bakar Mengenai Tanah Fadak

    Dalam keyakinan Syi’ah, Sayidina Ali maksum, tidak akan pernah berbuat salah. Jika demikian, berarti Sayidina Abu Bakar benar dong! Sebab, dalam masalah tanah Fadak, kebijakan Sayidina Ali sama dengan kebijakan Sayidina Abu Bakar.

    Imam Nawawi menulis dalam Syarah Sahih Muslim:

    ومما يؤيد ما قلناه ما قاله أبو داود أنه لما صارت الخلافة إلى علي رضي الله عنه لم يغيرها عن كونها صدقة وبنحو هذا احتج السفاح فإنه لما خطب أول خطبة قام بها قام إليه رجل معلق في عنقه المصحف فقال أنشدك الله إلا ما حكمت بيني وبين خصمي بهذا المصحف فقال من هو خصمك قال أبو بكر في منعه فدك قال أظلمك قال نعم قال فمن بعده قال عمر قال أظلمك قال نعم وقال في عثمان كذلك قال فعلى ظلمك فسكت الرجل فأغلظ له السفاح

    Imam Abu Daud berkata, setelah khilafah/kepemimpinan ada di tangan Sayidina Ali, Sayidina Ali tidak mengubah status tanah Bani Nadir, Fadak, dan bagian Nabi dari Khaibar dari status sedekah (sebagaimana kebijakan Sayidina Abu Bakar).

    Imam Qadi Iyad juga berkata sebagaimana dikutip oleh Imam Nawawi:

    شرح النووي على مسلم (12/ 73)

    قال القاضي عياض وفي ترك فاطمة منازعة أبي بكر بعد احتجاجه عليها بالحديث التسليم للإجماع على قضية وأنها لما بلغها الحديث وبين لها التأويل تركت رأيها ثم لم يكن منها ولا من ذريتها بعد ذلك طلب ميراث ثم ولى علي الخلافة فلم يعدل بها عما فعله أبو بكر وعمر رضي الله عنه

    Saayidah Fatimah meninggalkan berjidal dengan Sayidina Abu Bakar setelah Sayidina Abu Bakar menyampaikan hujjah, ini pertanda bahwa Sayidah Fatimah menerima kesepakatan (bahwa harta Rasulullah mejadi sedekah).

    Juga, setelah sampai kepada Sayidah Fatimah hadis Rasulullah dan penjelasannya, Sayidah Fatimah meninggalkan pendapatnya sendiri, kemudian tidak ada satupun dari keturunan Sayidah Fatimah yang menuntut warisan itu. Bahkan, setelah Sayidina Ali menjadi khalifah, kebijakan Sayidina Ali tidak menyalahi kebijakan Sayidina Abu Bakar dan Umar.

     

    Terkait Tanah Fadak: Apakah Saydiah Fatimah Marah pada Sayidina Abu Bakar?

    Menurut Imam Qadi Iyad di atas, awalnya Sayidah Fatimah memiliki pendapat sendiri mengenai tanah peninggalan Rasulullah itu. Tapi, setelah mendengarkan hadis dan penjelasan Sayidina Abu Bakar, Sayidah Fatimah menerimanya.

    Terbutki, setelah itu Sayidah Fatimah tidak menuntut tanah warisan lagi. Keturunan sayidah Fatimah juga tidak ada yang meminta lagi. Bahkan, kebijakan Sayidina Ali sama dengan kebijakan khalifah sebelumnya.

    Penejelasan ini senada dengan sebuah riwayat yang ada dalam kitab Syarah Nahjal Balaghah. Kitab ini masih dipakai oleh sebagian Syi’ah untuk mengutamakan Sayidina Ali dari khalifah sebelumnya. Berikut ini riwayatnya:

    شرح نهج البلاغة (16/ 216)

    قال أبو بكر : وحدثني محمد بن زكريا قال ، حدثنى أبن عائشة ، قال : حدثنى أبى ، عن عمه قال : لما كلمت فاطمه أبا بكر بكى ، ثم قال : يابنة رسول الله ، والله ما ورث أبوك دينارا ولا درهما ، وإنه قال : إن الانبياء لا يورثون ، فقالت : إن فدك وهبها لى رسول الله صلى الله عليه وآله ، قال فمن يشهد بذلك ؟ فجاء على بن أبى طالب عليه السلام فشهد ، وجاءت أم أيمن فشهدت أيضا ، فجاء عمر بن الخطاب وعبد الرحمن بن عوف فشهد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقسمها ، قال أبو بكر : صدقت يا ابنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وصدق على ، وصدقت أم أيمن وصدق عمر ، وصدق عبد الرحمن بن عوف ، وذلك أن مالك لابيك ، كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يأخذ من فدك قوتكم ، ويقسم الباقي ، ويحمل منه في سبيل الله ، فما تصنعين بها ؟ قالت : أصنع بها كما يصنع بها أبى ، قال : فلك على الله أن أصنع فيها كما يصنع فيها أبوك ، قالت : الله لتفعلن ! قال : الله لافعلن ، قالت : اللهم اشهد ، وكان أبو بكر يأخذ غلتها فيدفع إليهم منها ما يكفيهم ، ويقسم الباقي ، وكان عمر كذلك ، ثم كان عثمان كذلك : ثم كان على كذلك ، فلما ولى الامر معاوية بن أبى سفيان أقطع مروان بن الحكم ثلثها ، وأقطع عمرو بن عثمان بن عفان ثلثها ، وأقطع يزيد بن معاوية ثلثها ، وذلك بعد موت الحسن بن على عليه السلام ، فلم يزالوا يتداولونها حتى خلصت كلها لمروان بن الحكم أيام خلافته ، فوهبها لعبد العزيز ابنه ، فوهبها عبد العزيز لابنه عمر بن عبد العزيز ، فلما ولى عمر بن العزيز الخلافة ، كانت أول ظلامة ردها دعا حسن بن الحسن بن على بن أبى طالب عليه السلام - وقيل : بل دعا على بن الحسين عليه السلام - فردها عليه ، وكانت بيد أولاد فاطمة عليه السلام مده ولايه عمر بن عبد العزيز فلما ولى يزيد بن عاتكة قبضها منهم ، فصارت في أيدى بنى مروان كما كانت يتداولونها ، حتى انتقلت الخلافه عنهم ، فلما ولى أبو العباس السفاح ردها على عبد الله

    Setelah Sayidah Fatimah berkata kepada Abu Bakar, Abu Bakar menangis. Abu Bakar berkata, “Wahai putri Rasulullah, demi Allah, ayahmu tidak mewariskan dinar dan dirham dan sesungguhnya ayahmu berkata, “Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan.” Lalu Sayidah Fatimah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah telah menghibahkan Fadak kepadaku.”

    Lalu Sayidina Abu Bakar berkata, “Siapa saksinya?” Lalu datang Sayidina Ali dan menjadi saksi, datang juga Ummu Ayman dan bersaksi, lalu datang Umar bin Khattab dan Abdurrahman bin Auf bersaksi bahwa Rasulullah membagi tanah Fadak (untuk kepentingan muslimin).

    Lalu Abu Bakar berkata, “Engkau benar wahai putri Rasulullah, Ali benar Ummu Ayman benar, Umar benar, Abdurrahman bin Auf benar. Hal demikian karena apa yang engkau dapatkan itu milik ayahmu. Dulu ayahmu (Rasulullah saw) mengambil (hasil) tanah Fadak untuk kebutuhan sehari-hari kalian, dan Rasulullah membagikan sisanya (untuk kepentingan muslimin). Dan dari tanah Fadak juga Rasulullah mengambil untuk sabilillah. Lalu, apa yang akan kamu perbuat dengan tanah Fadak?”

    Sayidah Fatimah menjawab, “Aku akan melakukan sebagaimana yang Rasulullah lakukan pada tanah Fadak.” Lalu Sayidina Abu Bakar berkata, “Maka bagimu atas Allah agar aku melakukan sebagaimana ayahmu melakukannya.”

    Sayidah Fatimah berkata lagi, “Demi Allah engkau akan melakukannya?” Sayidina Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, sungguh aku akan melakukannya!” Sayidah Fatimah berkata, “Ya Allah, saksikanlah!”

    Dan Sayidina Abu Bakar mengambil hasil Fadak, lalu menyerahkannya kepada keluarga Rasulullah dengan kadar yang mencukupi mereka. Abu Bakar membagikan sisanya (untuk kemaslahatan umat Islam). Hal ini berlaku di masa Sayidina Umar, lalu di masa utsman, lalu di masa Sayidina Ali…

    Dalam penjelasan di atas, Sayidah Fatimah tidak meminta warisan. Tapi, meminta pemberian dari Rasulullah. Yakni, tanah Fadak diberikan kepada Sayidah Fatimah sebagai hibah.

    Tapi endingnya sama; Sayidah Fatimah rida dengan keputusan Sayidina Abu Bakar. Sayidina Abu Bakar pun melakukan apa yang dijanjikan kepada Sayidah Fatimah. Juga di masa Sayidina Umar, di masa Sayidina Utsman, bahkan juga di masa Sayidina Ali.

    Artinya, Sayidah Fatimah tidak marah pada Sayidina Abu Bakar!

     

    Kebijakan Sayidina Ali Terkait Tanah Fadak dalam Kitab Syi’ah

    Penjelasan bahwa kebijakan Sayidina Ali sama dengan kebijakan Sayidina Abu Bakar mengenai tanah Fadak ini juga kita temukan dalam kitab Syi’ah. Misalnya dalam kitab as-Syafi fi al-Imamah:

     

    الشافي في الامامة - الشريف المرتضى - ج ٤ - الصفحة ٧٦

    وروى جرمي بن أبي العلا مع هذين البيتين بيتا ثالثا، وهو:
    فليت قبلك كان الموت صادفنا * لما قضيت وحالت دونك الكثب (1) قال: فحمد الله أبو بكر وصلى على محمد وآله وقال: يا خير النساء، وابنة خير الأنبياء، والله ما عدوت رأي رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا عملت إلا بإذنه وإن الرائد لا يكذب أهله، وإني أشهد الله وكفى بالله شهيدا. وإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم، يقول: (إنا معاشر الأنبياء لا نورث ذهبا ولا فضة، ولا دارا ولا عقارا. وإنما نورث الكتاب والحكمة، والعلم والنبوة).
    قال: فلما وصل الأمر إلى علي بن أبي طالب عليه السلام كلم (2) في رد فدك، فقال: إني لأستحي من الله أن أرد شيئا منع منه أبو بكر وأمضاه عمر.

    (Setelah Fatimah meminta tanah Fadak kepada Abu Bakar), Abu Bakar memuji Allah dan bersalawat kepada Nabi Muhammad beserta keluarganya, Abu Bakar berkata, “Wahai sebaik-baiknya perempuan, wahai putri sebaik-baiknya Nabi, demi Allah, aku tidak melampawi/menentang pendapat Rasulullah saw. dan aku tidak membuat kebijakan kecauli sesuai dengan izinnya/sabdanya, sesungguhnya pemandu tidak akan berdusta pada keluarganya sendiri, dan Aku bersaksi kepada Allah dan cukuplah Allah sebagai saksi dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kami para nabi tidak mewariskan emas dan perak, dan tidak mewariskan rumah dan tempat. Yang kami wariskan hanyalah kitab, hikmah, ilmu, dan nubuwah.”

    Rawi berkata: Ketika kepemimpinan ada di tangan Sayidina Ali, Sayidina Ali diminta untuk mengembalikan Fadak, lalu Sayidina Ali berkata, “Sungguh aku malu kepada Allah untuk mengembalikan sesutau yang tidak dikembalikan oleh Abu Bakar lalu diteruskan oleh Umar.”

    Maka bisa difahami, Abu Bakar tidak menyerahkan tanah Fadak kepada Sayidah Fatimah sebagai hak milik karena mengamalkan sabda Rasulullah. Tapi, Sayidah Fatimah dan keluarga Rasulullah masih mendapatkan hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari sebagaimana di masa Rasulullah. Sayidah Fatimah awalnya berbeda pendapat dengan Sayidina Abu Bakar, tapi akhirnya menerima dan setuju. Sayidina Ali yang menurut Syi’ah maksum membuat kebijakan seperti kebaijakan Sayidina Abu Bakar.

    Wallahu A’lam..

     

    0

    Posting Komentar

    Home Ebook Kelas WA Link
    -->