-->
lm2ehI3jonma4uzm1pDxTuKLeJW1muj7wMTB5q1K

Ngaji[combine]

Baper[oneright]

Review[oneleft]

Cerpen[three](3)

Lifestyle[hot](3)

Kisah[two]

Aksara[dark](3)

    Page

    Bookmark

    Pak Said Hampir Runtuh

    Pak Said melangkah gontai. Kali ini dia pulang dengan hati berbunga-bunga. Dia merasa anak didiknya mulai memahami pelajaran yang dia ajarkan. Kebahagiaan itu benar-benar dia rasakan. Hatinya nyaman. Cita-citanya ingin mencetak generasi faham agama akan tercapai. Memang tak mudah mewudujukan semua itu. Butuh waktu dan kesabaran. Bahkan, keluarga pun kadang harus dinomer duakan. Demi agama dan negara.
    Seperti biasanya, sesampainya di rumah, Pak Said langsung masuk. Pintu tak dikunci. Rumah aman dari pencuri. Sebab, memang tak ada yang berharga. TV tak ada. Kulkas tak ada. Mungkin cuma kitab-kitab kelasik yang berjejeran di ruang depan. Selain itu tidak ada.

    Pak Said terkejut ketika mendengar isak tangis dari kamar tidurnya. Dia menghampiri. Sang Istri tercinta sedang tertunduk di depan cermin. Matanya basah. Pipi putihnya juga dialiri air mata. Pak Said sedikit bingung. Kenapa istrinya menangis. Setahu dan seingat Pak Said, Bu Nur, sapaan akrabnya, menangis hanya ketika bertengkar dengannya. Selain itu jarang, bahkan tidak pernah. Pak Said menghampiri. Memegang pundak sang istri. Bu Nur sedikit kaget. Dia angkat kepalanya. Lalu, berdiri dan memeluk suami tercintanya. Isak tangis Bu Nur semakin membahana. Dari tangis itu, Bu Nur mengunggakapkan betapa perih hatinya. Betapa sakit batinnya. Pak Said hanya terdiam. Tidak biasanya istri tercinta seperti itu.
    “Sudah dek… berhentilah. Ceritakanlah apa yang terjadi!” Suara Pak Said membelah suara tangis Bu Nur.
    Bu Nur semakin meneggelamkan dirinya dalam pelukan Pak Said. Ada ketenangan dalam pelukan itu. Meski resah tak hilang, tapi ketika berada dalam pelukan sang suami, masalah terasa ringan.
    “Tetangga membicarakan kita bang. Kata mereka, kasihan aku ini, mendapat suami abang. Kerjaannya cuma tukang sayur di pasar. Beras sering ngutang. Saya malu bang.” Bu Nur menjelaskan dengan suara tercekat-cekat.
    Pak Said memejamkan mata. Dia eratkan pelukannya. Pelukan itu menandakan betapa minta maafnya Pak Said. Dia merasa tidak bisa membahagiakan istri. Hanya tangis yang dia ukir di matanya. Memang, sejak menikah, rasanya Pak Said tidak pernah memberikan sesuatu yang berharga untuk Bu Nur. Sesuatu yang membuatnya meloncat-loncat. Dia hanya bisa membuatnya tersenyum. Bukan dengan sesuatu yang berharga. Tapi hanya dengan senyum tulus dan ikhlas. Pak Said begitu beruntung mendapatkan istri Bu Nur. Wanita yang tidak pernah memberi beban kepadanya.
    “Dek…. Maafkan abang. Abang tidak bisa membahagiakanmu.” Ucap Pak Said dengan suara lirih. “Tahun depan, abang akan berhenti mengajar di Madrasah. Abang akan merantau.” Lanjut Pak Said.
    “Tidak usah bang. Saya ikhlas dengan semua ini. Ajarkan semua ilmu abang pada anak negri. Agar mereka faham agama. Agar mereka berilmu tinggi. Agar mereka memilki tanggung jawab pada agama dan negara. Sehingga mereka tidak gampang korupsi.”
    Tanpa terasa, air mata Pak Said jatuh. Betapa bening hati istrinya. Sebening air mata yang kini mengalir di pipi mereka berdua. Mungkin, andai tidak ada Bu Nur, Pak Said sudah menyerah dari beberapa tahun yang lalu. Tapi, ada Bu Nur yang selalu memberinya semangat dan kekuatan jiwa. Memberinya motivasi agar selalu ikhlas mengajarkan ilmu tuhan. Ya Allah Ya Rabbi…. Berkahi hidup kami.
    ***
    Pak Said adalah seorang laki-laki biasa. Hidupnya juga biasa. Tanpa harta. Tanpa kemewahan. Dia bekerja sebagai penjual sayur di pagi hari. Itupun di hari tertentu. Pada hari pasaran. Hari sabtu, senin, rabu dan jum’at. Empat hari dalam seminggu. Penghasilan Pak Said tidak seberapa. Kalau untung, setiap kali berjualan, mendapat uang 50.000.  Lain mudalnya. Kalau tidak untung, 5000 saja tidak dapat.
    Pak Said menjalani usaha itu dengan sabar. Dia tahu, hasil dari jualannya tidak seberapa. Hanya cukup makan saja. Itu kalau waktu untung. Kalau tidak, untuk beli beras harus menghutang tetangga.
    Sebenarnya, bukan tidak bisa Pak Said merubah nasib. Dia bisa merantau ke jawa atau ke pulau lainnya. Sudah banyak teman yang menawarkan. Bahkan teman sebangkunya dulu menawarkan gaji yang lumayan. 6 juta perbulan. Tapi dia enggan. Ada tugas yang menurutnya harus diemban. Mengajar. Mengajar anak bangsa tentang agama. Kata kiainya, pendidikan anak bangsa tentang agama mulai menurun. Yang banyak ilmu umum. Ilmu agama sudah menjadi sampingan. Sebagai pengisi waktu kosong saja. Oleh karena itu, Pak Said berkomitmen mengajarkan ilmu agama di Madrasah Nurul Ulmu. Dusun Angsanah. Desa Dudung. Kecamatan Kaukab. Kabupaten Bangkalan. Dia Madrasah itu kekurangan guru. Kalau dia masih hengkang, guru samakin berkurang.
    Pak Said mengajar di Madrasah itu sejak muda. Sejak lulus MA Nurul Ulum. Pada umrunya yang ke-25, dia dijodohkan. Sang kiai yang memilihkan wanita untuknya. Sebenarnya, sudah lama Pak Said memendam perasaan pada wanita itu. Tapi dia tidak berani mengungkapkan. Dia memang dikenal tidak suka wanita. Bahkan, sang ibu pernah menghawatrikannya. Hawatir tidak punya perasaan ‘mau’ pada wanita. Padahal bukan tidak mau, tapi malu. Malu mendekat pada wanita. Tak heran, wanita pertama kali yang dapat menyentuh tangannya adalah Bu Nur. Yang mendapat kata cinta pertama darinya adalah Bu Nur. Semuanya hanya Bu Nru yang mendapatkannya.
    Sekarang pernikahan mereka sudah menginjak tahun yang kedua. Sudah memiliki anak satu. Kebahagiaan benar-benar lengkap mereka rasakan. Dengan rizki yang pas-pasasan, mereka bisa menciptakan senyum di tengah keluarga. Senyum dari jiwa.
    “Saya mencitaimu dek.” Ucap Pak Said suatu ketika.
    Bu Nur memandang suaminya dalam-dalam. Matanya berbinar. Ada rasa bahagia tak terkira dalam hatinya. Memang begitulah Bu Nur. Wanita sabar. Tak banyak kata. Dia berbicara hanya sperlunya. Dia juga ramah pada orang-orang. Gampang akrab. Gampang membantu. Orang-orang pun mengaggapnya orang baik. Tak jarang, mereka meminta wejangan kepadanya.
    “Adek sudah tahu kok bang.” Bu Nur  membalasa ucapan Pak Said dengan manja. Pak Said tersenyum.
    ***
     Pagi itu Pak Said sedang asik memamerkan dagangannya. Pasar semakin ramai. Ada harapan besar dagangan Pak Said akan cepat habis. Pak Said lihat sekeliling. Pedagang yang lain juga sedang sibuk dengan dagangannya. Bahkan sudah ada yang sibuk dengan pembeli. Pak Said tersenyum harap.
    Mentari semakin meninggi. Pasar mulai sepi. Dagangan Pak Said sama seperti tadi pagi. Satupun tak ada pembeli. Pak Said hanya mampu mengernyitkan dahi. Dia lihat pedagang di sampingnya sudah ingin pulang. Dagangannya habis. Pak Said masih menunggu. Mungkin nanti masih ada pembeli. Meski hanya satu orang. Untuk bekal pulang. Namun kali ini, nasib Pak Said memang begitu malang. Sampai jam 11;00 tak ada satupun pembeli yang datang. Padahal, pada jam 11;15 Pak Said ingin pulang. Dia ingin mengajar di Madrasah.
    Sesekali terlintas wajah Bu Nur hadir dalam sanubari Pak Said. Dia kasihan pada wanita itu. Nafkah yang ia berikan selalu kurang. Bahkan untuk beli beras kadang harus menghutang. Tapi, Bu Nur tidak pernah mengeluh. Bu Nur tersenyum. Meski senyum itu hanya utnuk membahagiakan sang suami. Maafkan aku dek. Ucap hati Pak Said. Air bening di pojok matanya mengintip.
    Pada jam 11;15 Pak Said pulang. Dia ingin mengajar di Madrasah. Sebenarnya, Pak Said bisa saja menunggu. Pasar akan tutup pada jam 1;00. Tapi, dia tidak mau menelantarkan anak didiknya. Satu jam saja telat, betapa ruginya anak didiknya. Ilmu mereka akan bekurang. Cita-cita untuk mencetak mereka menjadi orang berilmu tinggi tidak tercapai. Bukankah cita-cita itu memang butuh pengorbanan?
    Sesapainya di rumah, Bu Nur menyambutnya dengan hangat. Hilanglah rasa penat dan letih ketika melihat sikap Bu Nur itu. Rasa galau dan sedih juga terkikis oleh senyuman Bu Nur. “Tuhan, begitu beruntungnya diriku mendapat istri sebaik dia.” Pak Said bergumam. Lalu, Bu Nur masuk ke dapur. Sejurs kemudian, dia datang dengan membawa teh hangat. Bu Nur duduk di sebelah Pak Said sambil menyodorkan teh hangat itu.
    “Dek…. Dagangan abang gak ada yang laku.” ujar Pak Said.
    “Sabar bang… pasti ada jalan keluar.” Ujar Bu Nur. Matanya sayu. Seakan ada harapan yang tumpul.
    “Ada apa dek?”
    Tiba-tiba Bu Nur menangis sesenggukan. Bu Nur berusaha menahan tangis itu. Namun, rasa sakit di hatinya begitu dahsyat. Bagai ditusuk paku-paku berkarat. Tak ada obat. Hanya tangis yang mampu dia perbuat.
    “Tadi ibu menyindir aku bang. Tadi ibu bilang begini pada tetangga sebelah, “enak putrimu dapat jodoh bertanggung jawab. Merantau ke luar pulau. Tidak sperti putriku. Suaminya cuma jual sayur. Gak mau merantau. Katanya kasihan sama Madrasah. Boro-boro memberi uang beras pada mertua. Untuk dimakan sendiri saja sering ngutang.””
    Tangis Bu Nur semakin pecah. Pak Said tertegun. Kesedihan menggelayuti hati mereka berdua. Suasana pun hening. Hanya isak tangis Bu Nur yang mengisi rumah sederhana itu. Kemudian Pak Said menyandarkan punggungnya ke kursi. Mencoba menghilangkan lelah. Mencoba mengkikis susah. Tapi, semakin dia menyandar, kegelisahan semakin menghantui pikirannya.
    “Assalamualaikum….”
    Tiba-tiba suara lantang mengagetkan mereka. Pak Kamil. Ya, Pak Kamil mengunjungi mereka. Bu Nur langsung pergi ke dapur. Tanpa kata. Hanya air mata yang masih mengalir deras di pipinya. Sedangkan Pak Said menjawab salam. Membuka pintu. Lalu, mempersilahkan tamunya untuk masuk. Tamu dari jauh itu pun masuk dengan senyum hangat.
    Tak selang beberapa lama, tamu itu menawarkan pekerjaan pada Pak Said. Menjadi pengawas di kebun sawitnya. Anggaplah Mandor. Bayarannya mahal. Tentu, Pak Said harus hengkang dari rumahnya. Merantau jauh ke luar pulau sana. Pak Said terdiam. Dia memikirkan sesuatu. Bu Nur datang dengan membawa teh. Pak Said pun melihat mata Bu Nur. Bu Nur mengangguk. Pertanda Bu Nur lebih setuju untuk menerima tawaran itu.
    “Terimakasih Pak Kamil. Sampeyan telah mempercayai saya. Tapi mohon maaf pak. Saya tidak bisa menerimanya. Saya ada tanggungan di Madrasah.” Pak Said menolak tawaran itu.
    Setelah Pak Kamil pulang, Bu Nur menatap Pak Said. Ada pertanyaan besar di mata Bu Nur. Tapi dia tidak berkata apa-apa. Dia diam saja. Memang sifatnya begitu. Kalau ada sesuatu yang tidak dia suka, dia diam saja. Dia tidak pernah membantah. Sejurus kemudian, Bu Nur masuk ke kamar. Dia tutup pintu dengan kasar. Entahlah. Mungkin dia ingin mengungkapkan kekesalannya pada Pak Said. “Maafkan aku dek.” Kata Pak Said. Setelah itu, Pak Said mandi. Siap-siap ke madrasah. Mencoba ceria. Melupakana masalah sejenak. Memumpuk generasi muda.
    ***
    Beberapa hari kemudian, ibu mertua Pak Said semakin liar. Dia tidak hanya ngerasani Pak Said pada tetangga saja, tapi di depan Pak Said pun dia mulai menyindiri-nyindir. Menantu tidak menguntungkan kek. Menantu tidak berbakti kek. Menantu ini kek. Dan apalah. Kata-kata yang tidak seharusnya diberikan kepaa menantunya. Akan tetapi Pak Said tidak pernah marah dan tidak pernah membela diri. Apa yang dikatakan sang mertua memang betul. Namun, tak bisa dipungkiri. Kata-kata sang mertua begitu menusuk hati Pak Sadi. Bagaimana tidak, mertua yang seharusnya memberi motivasi malah menciutkan nyali.
    “Maafkan ibu bang…” Ucap Bu Nur suatu ketika.
    “Iya dek. Ini semua memang salah abang kok. Akhir-akhir ini abang memang jarang memberi ibu belanja. Maklumlah, untuk makan sendiri saja kita gali lobang tutup lobang”
    “Bang, ini anting dan cincin. Juallah besok. Beri ibu belanja. Biar tidak ngerasani abang terus.”
    Pak said tidak menyahut. Matanya menerawang ke langit-langit rumah. Pak Said merasa bersalah. Karena dia tidak mau merantau, situasinya jadi seperti itu.
    “Jangan dek. Simpan saja. Takut nanti adek butuh. Nanti malam akhir bulan. Abang gajian di Madrasah. Tidak banyak sih. Hanya 70.000. Besok abang ke pasar. Mau membeli belanja untuk ibu.”
    “Oea bang. Tadi Bu Matirah ke sini. Menawarkan pekerjaan. Untuk angkat barang-barang di tokonya. Tapi, waktunya setelah zuhur bang. Kalau menurut aku sih diterima saja. Untuk nambah uang belanja.”
    “Maaf dek. Abang tidak bisa. Abang tidak mau meninggalkan Madrasah.”
    ***
    “Bang, pulang! anak kita sakit parah. Badannya panas. Mengelinjang-gelinjang. Muntah-muntah..”
    Pesan singkat itu terpampang jelas di HP jadul Pak Said. Pak Said menghela nafas. Hatinya bergetar keras. Dia cemas. Terpaksa, dia mengemasi sayur-sayur yang tersisa. Sebeanarnya dia masih ingin berlama-lama. Ingin menjual sayur lebih banyak. Tapi apa boleh buat. Dia harus pulang.
    “Bang, anak kita bang. Kenapa anak kita bang.”
    Kata Bu Nur meluncur begitu saja. Pak Said sedikit lebih sabar. Meski air matanya meleleh tak kalah deras.
    “Kata dokter, anak kita terkena muntaber.”
    “Innalillah Wa Inna Ilaihi Raji’un.” Ucap Bu Nur sambil menggenggam kedua tangannya dan meletakkan di mulut. Tangisnya masih sesenggukan. Sejurus kemudian, suami-istri itu duduk di kursi yang berjejeran di rumah sakit.
    “Bagaimana biayanya bang? Pasti mahal.”
    “Sudah, adek tidak usah mikirin itu. Abang punya simpanan.” Kata Pak Said. Suaranya mantap. Tak ada gelisah. Meski ada sedikit serak menghiasai suaranya. Dalam hati, Pak Said meminta maaf karena telah berbohong. Punya simpanan? Dapat dari mana. Dagangannya macet. Padahal, sumber ekonomi hanya dagangan itu.
    “Adek tunggu di sini saja. Abang mau mengambil tabungan abang.”
    “Bang, ini anting dan cincin adek. Juallah untuk tambahan.”
    Pak Said mengambil anting dan cincin yang tidak begitu mahal itu.
    Pak Said terus melangkah. Entah mau ke mana. Tidak mungkin menuju bank. Dia tidak punya tabungan. Dia juga tidak punya sesuatu sebagai jaminan. Mungkin jalan terakhir ya ngutang. Tapi pada siapa? Pada tetangga, Pak Said malu. Hutanganya sudah menumpuk pada mereka. Allahumma Yassir Umurana…. Ya Allah gampangkanlah urusanku. Pak Said terus melangkah. Menuju Toko Mas. Ingin menjual perhiasan istri tercintanya. Sejujurnya, Pak Said tidak sampai hati menjual perhiasan itu. Perhiasan itu adalah harta terakhir yang dimiliki sang istri. Namun, dia tiak ada jalan lagi. Dia harus melakukan itu. Nanti, kalau ada rizki, Pak Said berjanji akan menggantinya.
    Setelah perhiasan itu dijual, Pak Said memilki uang 500.000. Masih kurang 500.000 lagi. Dia pun memeras otak. Buntu. Dia tidak punya jalan lagi. Apa dia harus menerima tawaran Pak Ali? Merantau ke Sulawesi. Dia tinggal meminta uang muka. Tapi, Madrasahanya bagaimana. Tidak. Madrasah tidak boleh ditinggalkan. Ya Tuhan, kenapa begitu sulit memperjuangkan ilmumu.
    Tanpa sengaja, Pak Said melihat Masjid. Dia pun menghampiri masjid itu. Mengambil wudu. Salat Tahiyatul Masjid. Salat Hajat. Lalu bersimpuh. Memohon jalan kelauar. Setelah selesai berdo’a, dia tutup dengan hamdalah dan salawat kepada baginda. Kata Pak Ustadz, do’a yang diakhiri dua dzikir itu akan diijabahi.
    HP Pak Said berbunyi. Pertanda ada SMS masuk. Pak Said membukanya. Lalu membacanya.
    “Bang, cepat ke sini. Pihak rumah sakit menagih bayaran. Paling tidak 70% dari total pembayaran.”
    ***
    “Maaf pak. Kami tidak bisa membantu. Semua itu sudah menjadi peraturan rumah sakit. Kalau tidak bisa bayar, terpaksa anak bapak harus dikeluarkan.”
    Ujar administrator rumah sakit. Lembut. Tapi, dibalik kelembutan itu ada beribu-ribu jarum siap menusuk kalbu.
    “Tolong pak. Saya orang tidak punya.” Pak Said merintih.
    “Batas akhir pembayaran nanti jam 5;00. Kalau bapak tidak bayar, terpaksa anak bapak harus dibawa pulang.”
    Pak Said tertunduk. Dia menangis lepas. Air matanya mengalir deras. Semua ini karena salahanya. Tidak mau pergi mengadu nasib. Ini semua salahanya. Terlalu peduli pada nasib orang lain. Terlalu peduli pada Madrasah. Ah, Tuhan… jaga hati ini untuk ihklas. Tuhan, tolonglah hambamu ini.
    Pak Said langsung beranjak. Meninggalkan rumah sakit. Dia akan berusaha agar anak tercintanya mendapatakan perawatan. Pak Said terus berlari kecil. Entah mau ke mana. Dia tidak punya tujuan. Dia hanya ingin mendapatkan uang. Terlintas dalam pikirannya untuk menerima tawaran Pak Ali. Merantau ke Sulawesi. Ini terpaksa. Untuk menyelamatkan nyawa anaknya. Dia pun melangakah ke rumah Pak Ali. Dalam hatinya Pak Said beristighfar. Karena harus meingglakan Madrasah. Ini pilihan terakhir.
    “Bang, cepat ke rumah sakit. Ada orang ingin bertemu abang. Biaya rumah sakit dibayar sama dia.” Pak Said membaca pesan singkat yang dikirim istrinya. Diapun mengurungkan niat untuk ke rumah Pak Ali. Dia kembali lagi ke rumah sakit.
    Sesampainya di rumah sakit, seorang gagah yang berpenampilan seperti DPR mengambil tangan Pak Said dan menciumnya. Pak Said bingung. Siapa dai? Kenapa dia melakukan itu?
    “Pak, Saya Rudi. Murid bapak. Masih ingat pak?” Kata orang gagah itu.
    “Ya Allah, ini kamu Rud. Udah besar.”
    “Iya Pak. Alhamdulillah.”
    “Kamu kok bisa jadi gagah seperti ini? dulu kamu kurus, bau, kere. Sekarang keren”
    “Alahmadulillah pak. Allah berkuasa. Setelah saya lulus dari Madrasah Aliyah, saya kuliah pak. 5 tahun setelah wisuda, saya terpilih menjadi Bupati. Dan, Alhamdulillah, warga saya makmur-makmur. Setiap keluarga, paling sedikit memiliki satu mubil. Seperti kata bapak dulu, kalau jadi pemimpin harus bertanggung jawab. Sebab, nanti di Akhirat akan diminta pertanggung jawaban. Dan yang paling penting, pemerintahan kami bersih dari korupsi. Bapak kan yang mewanti-wanti kami dulu agar tidak korupsi?”
    Pak Said mengangguk-ngangguk. Pesan yang pernah dia sampaikan ternyata meresap kuat di hati salah satu muridnya. Alahmdulillah.


    Posting Komentar

    Posting Komentar