-->
lm2ehI3jonma4uzm1pDxTuKLeJW1muj7wMTB5q1K

Ngaji[combine]

Baper[oneright]

Review[oneleft]

Cerpen[three](3)

Lifestyle[hot](3)

Kisah[two]

Aksara[dark](3)

    Page

    Bookmark

    Lelah Mencintai Tanpa Dicintai (1)


    Mencintai tapi tidak dicintai? Pasti sakit, kecewa, sedih, dan bikin gak semangat. Yang berbahaya jika sampai merasa diri tak berarti. Karena bisa bikin tak percaya diri.

    Nah, ada beberapa teman saya yang lagi patah hatinya. Ya karena cinta. Cinta yang tak berbalas.

    “Hatiku terluka untuk ke sekian kalinya”

    “Gimana agar tidak terluka lagi?”

    “Kulelah mencintai tanpa dicintai”

    Itu kata-kata dan pertanyaan yang diajukan ke saya. Saya jawab dong dengan kata-kata indah. hehehe…


    Kalau masalah cinta-cintaan, saya pakarnya (kata saya sih). Meski banyak teman yang meragukan kalau saya punya mantan. Embuh…

    Ada lagi neh…

    “Eh, dia ada di depanku,” katanya.

    “Siap-siap sayapmu patah,” jawabku.

    “Udah dari tadi!”

    “Pindah biar gak tambah!”

    “Dia datang untuk skripsinya” katanya.

    “Jangan mau,” kataku.

    “Aku gak bisa”

    Di akhir percakapan, saya nyaranin agar dia membantu skripsinya sampai selesai.  Konsekuensinya, membiarkan luka menganga lagi. Membiarkan hati patah lagi.

    Ada lagi yang minta dukungan dan bantuan. Wah, kalau untuk sahabat apa lagi yang dekat, saya pasti dukung. Bismillah… Niati karena Allah.

    Pokoknya malam ini, saya kebanjiran kisah patah-patahan. Maklum… Anak muda.
    ***

    Mencela Cinta

    Saya jadi teringat kitabnya Imam Ibnu Jauzi. Kitab tentang cinta. Judulnya, Dzammul Hawa. Dikarang tahun 500-an hijriah. Sudah dapat 1000 tahunan.

    Menurut penuturan Imam Ibnu Jauzi, kitab ini dikarang karena curhatan seseorang. Ada orang yang lagi patah hatinya datang kepada beliau. Dia curhat. Maka, dikaranglah kitab ini.

    Ibnu Jauzi menulis, cinta itu tercipta agar roda kehidupan terus berjalan. Contohnya, cinta kepada makanan. Cinta kepada lawan jenis. Hal itu agar hidup terlestarikan.

    Namun, cinta juga bisa menjadi mala petaka manakala keterlaluan (mufrith). Oleh karenanya, jika cinta itu bermenfaat, maka baik. Jika menimbulkan mudarat, maka jelek.

    Dari sinilah muncul istilah cinta tercela. Namun biasanya cinta itu membawa kemudaratan. Sehingga beliau menamai kitab itu dengan “Dzammu al-Hawa”, mencela cinta/cinta yang tercela.

    Obat Cinta

    Bisakah cinta diobati? Bisalah. Obatnya adalah cinta juga. Cinta berbalas cinta alias saling mencintai. Jika tidak, maka sedih dan kecewa.

    Baca juga:


    Apakah ada obat lagi selain berbalasnya cinta? Ada, tapi sulit. Sulit banget. Kalau tidak percaya, mari kita baca syiir-syiir Arab tentang cinta di bawah ini.

    ولقد قال طبيبي # وطبيبي ذواحتيال
    أشك ماشئت سوى الحب # فاني لأبالي
    سقم الحب رخيص # ودواء الحب غالي

    Artinya (sepemahaman saya):

    Sungguh, telah berkata dokterku
    Dokterku yang memiliki banyak cara untuk menyembuhkan
    “Ceritakanlah penyakitmu sesukamu selain cinta
     (Kalau masalah cinta) aku tak akan memedulikannya
    Sakit karena cinta itu mudah
    Menyembuhkan sakit karena cinta itu mahal harganya,”

    Ada lagi:
    دخولك في باب الهوى ان أردته # يسير ولكن الخروج شديد

    Menari-nari di pintu cinta itu mudah
    Akan tetapi keluar darinya sulitnya luar biasa

    Lalu gimana dong? Baca “LelahMencintai Tanpa Dicintai” bagian 2 ya…

    6

    6 komentar

    • Ahmad Lamuna
      Ahmad Lamuna
      9 Agustus 2019 pukul 15.00
      Cinta itu fitrah. Dia bisa berupa ujian bisa juga berupa energi. Kita perlu bijak untuk mengelolanya. Ditunggu chapter dua-nya
      Reply
    • Fadli Hafizulhaq
      Fadli Hafizulhaq
      5 Agustus 2019 pukul 13.10
      Jadi teringat pepatah, lebih baik mencegah daripada mengobati. Biar tidak mudah patah hati, barangkali bisa dicegah dengan tidak mudah mencinta, hhe
      Reply
    • Rindang Yuliani
      Rindang Yuliani
      5 Agustus 2019 pukul 08.54
      Obat patah hati paling baik adalah waktu. Ketika waktu telah berlalu, maka perasaan cinta maka perlahan akan luntur dengan sendirinya.
      Reply
    • Ilham Sadli
      Ilham Sadli
      5 Agustus 2019 pukul 08.15
      Cukup mengikhlaskan dan berdamai dengan keadaan, maka perlahan tapi pasti patah hati akan mulai terganti. Percayalah
      Reply
    • Milda Ini
      Milda Ini
      5 Agustus 2019 pukul 08.09
      ini kata orang milenial kudu move on dong, supaya bisa bergairah kembali, sebab akan datang suatu masa dimana cinta ketemu cinta yang sah, hehehe
      Reply
    • Dewi Rieka
      Dewi Rieka
      4 Agustus 2019 pukul 19.17
      Patah hati bisa disembuhkan asal kita merelakan yang sudah berlalu, dan membuka diri untuk cinta yang baru, percaya kalau yang baru akan lebih baik .
      Reply