-->
lm2ehI3jonma4uzm1pDxTuKLeJW1muj7wMTB5q1K

Ngaji[combine]

Baper[oneright]

Review[oneleft]

Cerpen[three](3)

Lifestyle[hot](3)

Kisah[two]

Aksara[dark](3)

    Page

    Bookmark

    Aku Bukan Putra Kiai

    Cerpen Islami| “Lif…. Lif….”
    “Ia bu….” Alif langsung menyahut panggilan ibunya. Dia beri tanda buku yang sedang dibacanya lalu ditutupnya. Kemudian, buku itu dia letakkan di rak kitabnya.

    “Belikan ibu gula ya… Ibu mau masak cendol untuk ayahmu. Kasihan ayahmu mencangkul di sawah. Kalau ada cendolnya kan enak. Buat ghukghengghuk (camilan)”

    Alif mengambil uang yang diserahkan ibunya. Dia pergi ke toko dengan sepeda ontelnya. Alif sebenarnya ingin membantu ayahnya. Mumpung masih liburan pesantren. Tapi, ayahnya tidak mengizininya. Sebab, dia baru masuk rumah sakit karena terkena penyakit hepatitis. Alif terus menggayuh sepedanya. Butuh seperempat jam untuk sampai di Toko Bu Odeh.


    Sesampainya di toko, Alif langsung mengutarakan maksudnya. Bu Odah, si pemilik Toko langsung mengambil gula satu kilo. Di wadahi pelastik dan di serahkan kepada Alif. “Bu Odah… di sini jual kacang goreng?” Suara wanita tiba-tiba menerjang telinga Alif.
    Alif sedikit merinding. Suara itu begitu lembut. Menggetarkan hati. Alif menoleh ke sumber suara, tanpa sengaja, matanya dan mata pemilik suara itu bertemu. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Alif langsung memalingkan muka. Ah…... cantik dan manis. Siapa dia?  “Astaghfirullah…. Dia bukan wanita halalku. Kenpa aku menikmati keindahannya? Astaghfirullah….” Alif meng-ikrar dosanya.

    Alif pun pulang. Menggayuh sepeda bututnya pelan-pelan. Pikirannya masih melayang tertinggal di Toko Bu Odeh. Mengingat wanita berjilbab biru langi itu. Alif terus terbelenggu dalam paras cantik yang terlanjur terukir dalam otaknya. Seakan dia terjebur dalam derasnya aliran sungai. Air terus mebawanya entah ke mana. Dia mencoba memberontak, keganasan air tambah membahana. Dia sudah berusaha menepis, tapi tidak mampu. Kecantikan wajah itu seakan telah menancap kuat dalam benaknya.  Entahlah, perasaan kadang memang tak mematuhi keinginan.
     Ingin sekali Alif mengenal wanita canitk itu. Padahal, baru satu kali bertemu. Itupun sebenatar. Tanpa terasa, Alif sudah sampai di rumahnya. Dia sedikit kaget. Kok sudah sampai. Dia tidak ingat apa-apa ketika menggayuh sepedanya. Bahkan dia tidak ingat bertemu dengan siapa saja tadi di jalan. Begitulah. Kadang wanita memang tega merenggut kewarasan.

    Setelah memberikan gulanya, Alif langsung masuk ke kamarnya. Diambilnya Buku yang tadi dia tinggalkan. Dia buka pas di tandanya. Dia baca lagi. Namun, dia tidak bisa fokus. Dia tidak bisa menikmati alur cerita Novel religi itu. Dia terus teringat pada wanita berjilbab biru itu. Wajahnya yang dibalut kerudung, matanya yang indah dan entahlah, tidak henti-hentinya hadir di depan matanya. “Kenapa dengan diriku? Baru kali ini aku mengalami perasaan se dahsyat ini. Kenapa wajah wanita itu tidak bisa ku lupakan? Padahal kita hanya berjumpa satu kali. Apa ini mungkin siksaan karena aku telah menatap wanita bukan mahrom? Ya, mungkin ini siksaan. 
    Astaghfirullah..” Hati Alif bergemuruh. Perasaannya berkecamuk. Rasa bersalah, rasa ingin kenal, rasa merindu dan ingin bertemu bercampur aduk dalam hatinya. Dia bingung. Hanya satu hal yang dia sadari; mata indah itu tidak bisa dia lupakan.

    Keesokan harinya, Alif kembali lagi ke Toko Bu Odeh. Bukan untuk membeli gula, tapi mau tanya saiapa gerangan wanita berkerudung biru kemaren. Alif memilih waktu yang tepat untuk bertanya. Dia menunggu. Ketika pembli tidak ada, dia memberanikan diri untuk bertanya. “Owh, kemaren itu. Itu Neng Salwa. Putrinya kiai Ridwan.” Jawab Bu Odeh.

    “Kiai Ridwan siapa Bik…?” Tanya lagi Alif pada Bu Odeh. Alif biasanya memang memangil bibi. Karena masih ada hubungan famili.

    “Ntu, yang dalemnya di jalan Ahmad Busyro itu. Kalau gak salah nama pondoknya, Riyadul Muttaqin, ya Riyadul Muttaqin. Disingkat menjadi PRM.” Bu Odeh menjelaskan.

    “Owh, kok bisa ada di sini ya bik?”

    “Ikut Neng Iza.. dia sama neng Iza kan satu pondok di Bangkalan. Biasanya, kalau waktu pulangan kayak gini, teman-teman Neng Izah banyak yang main kesini. Lah kemaren itu, mereka beli kacang buat rujak-rujakan”

    Alif tirdiam. Matanya sayu. Ternyata, perasaannya memilih orang yang salah. Salah bukan karena pilihannya tidak baik, tapi telalu baik. Dan dirinyalah yang tidak baik buat wanita berkerudung biru itu, Neng Salwa.

    “Lif… kenapa lo? Naksir? Hati-hati Lif… perasaan harus dijaga. Kita harus tahu diri.” Suara Bu Odeh menyadarkan Alif dari lamunannya.
    “Iya bi..”

    Setelah Alif tahu siapa sebenarnya wanita berkerudung biru itu, dia mati-matian menekan perasaannya. Dia sibukkan waktunya sehingga tidak menemukan celah untuk teringat pada Neng Salwa. Setelah selesai salat, di rutin membaca surat Fatihah. Di antra Fatihah itu dia khususkan untuk Neng Salwa. Kata temannya, kalau ingat pada seorang wanita, maka bacalah Fatihah untuknya. Insyaallah tidak akan ingat lagi. Namun, sekeras apapun Alif berusaha melupakan wajah yang dibalut kerudung biru itu, sekeras itu pula wajah cantik itu menancap dalam ingatannya. Satu minggu, satu bulan, satu tahun, Alif masih tidak bisa melupakannya. “Ah…. Aku lelah.”
    ***
    Suatu ketika, Alif jalan-jalan sambil melihat pemandangan indah. Semilir angin membelai tubuhnya. Dia terus melangkah. Tempat yang ia singgahi kali ini begitu menakjubkan. Semua sudut menghijau. Bunga-bunga juga bertaburan di sisi jalan. Pelangi melengkung di langit. Indahnya.

    Samar-samar, Alif melihat sosok wanita membelakanginya. Wanita itu memakai jubah putih. Rambutnya terurai dan melambai-lambai tak mampu menahan terpaan angin. Kerudungnya terkulai di lehernya. Arif melangkah lalu menyapanya.

    “Hey…”

    Wanita itu berbalik. Dan……
    “Salwa…..” Alif kaget. Hatinya bergetar kencang. Dia ingin sekali melepas rindu dengan memeluk wanita yang di depannya, tapi tidak bisa. Malu membuatnya tercekat tak bisa bergerak.

    “Sudah lama kita tidak berjumpa Salwa.” Kata Alif. Salwa hanya diam. “Kenapa kau bisa di sini?” Lanjut Alif.

    “Melihat keindahan ciptaan Tuhan. Kamu siapa? Kenapa juga kesini?” Salwa balik tanya.

    Alif terdiam sejenak. Dia pandangi alam sekitar, bunga, pohon, kupu-kupu dan pelangi yang indah.

    “Aku seseorang tak bersayap yang berusaha terbang mencarimu.”

    “Kenapa mencariku?”

    “Ada yang ingin aku sampaikan kepada mu.”

    “Apa?”

    “Hati ini telah lama mengukir wajahmu. Dia tidak ingin melepaskanmu. Bisakah kita bersatu? Merangkai sejarah ke angkasa kehidupan nyata?”

    Salwa terdiam mendengar kata-kata itu. Matanya berkaca-kaca. Air matanya mengintip di sudut mata indahnya.

    “Kang, kenapa kau katakan itu padaku. Kenapa? Aku kupu-kupu indah yang sudah terjarat cinta purnama. Kang…. Simpan cinta itu dalam hatimu yang paling dalam. Sampai ajal menjemput. Orang yang mati membawa cinta akan mati syahid.” Ujar Salwa dengan suara lembutnya. Alif bernafas panjang. Dia tidak mampu mendengar kata-kata itu.

    “Oea Kang, Sampeyan putranya kiai siapa?” Tanya lagi Salwa.

    Alif kaget mendengar pertanyaan Salwa. Matanya terbelalak. Tidak pernah terfikir Salwa akan bertanya seperti itu. Alif menunduk.

    “Aku bukan anak kiai. Aku anak petani.” Kata Alif sejujur-jujurnya.

    Salwa tak berkata-kata. Wanita bidadari itu berbalik dan terbang meninggalkan Alif.

    “Salwa…………………….” Kata Alif lirih.

    Astaghfirullah… Alif kaget. Dia terbangun dari tidurnya. Nafasnya tersenggal-senggal. “Hanya mimpi.” Pekiknya. Lalu, dia meludah ke kiri tiga kali sambil berdo’a. Setelah itu, dia membaca do’a bangun tidur. Alif merasa mimpi yang baru saja terjadi seakan nyata. Dia benar-benar merasakan kehadiran Salwa. Dia juga merasakan betapa hatinya perih dan ngilu. Di sisi lain, mimpi itu membuatnya sadar bahwa cinta itu tak harus bersatu. Kadang, cinta itu datang untuk mengajari kedewasaan. Terimakasih cinta. Alif pun ingat perkataan pamannya saat memberi motivasi agar giat belajar saat kuliah. “Orang tua kita petani, kalau bukan kita yang merubah diri kita, siapa lagi. Iya kalau anak kiai, bisa jadi orang karena orang tuanya. Jadi, ketika kuliah nanti, kamu harus semangat. Harus aktif di organisasi-organsiasi.”

    Astaghfirullah….  La Haula Wa La Quwata Illah Billah…… lirih Arif.
    Alif pun bergegas mengambil wuduk. Salat Tahajjud dan berdo’a agar bisa melupakan semuanya. Dia juga tidak lupa mendo’akan Salwa dan menghususkan Fatihah untuknya.

    Salwa……….


    0

    Posting Komentar