Menjadi Guru Ngaji, Menyiapkan Bekal untuk Mati

Menjadi guru ngaji itu Sulit. Ya sulit. Tapi asyik. Juga nikmat. Kenikmatan yang tiada tara ketika mereka tiba-tiba bisa membaca. Padahal sebelumnya 'A' saja tidak bisa.

Sulit. Ya, sulit. Mengajari mereka mengeja. Huruf demi huruf. Dari A ba Ta sampai Ya. Itu semua sulit. Diajari Ba, mereka bilang Ta. Diajari Ta, mereka bilang Ba. Kebolak balik.



Ya begitulah.....

 خيركم من تعلم القرأن وعلمه

"Paling baiknya kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya"

Jika menyimak hadis ini dan direnungi dalam-dalam, Insyaallah tidak akan pernah lelah menjadi guru ngaji. Orang terbaik bukan?

Terbaik ? Ya, bahkan lebih dari terbaik. Sebab, mengajar ngaji merangkai hidup abadi. Benarkah?

Setiap huruf yang diajarkan, melahirkan pahala ketika dilafalkan.

Seorang guru yang mengajari fatihah, akan mendapat pahala setiap fatihah itu dibaca.  Subhanallah. Hidup benar-benar abadi. Masih mendapat kiriman pahala meski sudah mati.

Foto: Bapak Hudi, Guru TPA Al-Hidayah

#BlogGram

Related

BlogGram 6480400642436530789

Post a CommentDefault Comments

emo-but-icon

Toko Buku

Toko Buku
Sinopsis atau mau pesan: silahkan klik gambar!

Populer

Terbaru

Profil

item