-->
lm2ehI3jonma4uzm1pDxTuKLeJW1muj7wMTB5q1K

Ngaji[combine]

Baper[oneright]

Review[oneleft]

Cerpen[three](3)

Lifestyle[hot](3)

Kisah[two]

Aksara[dark](3)

    Page

    Bookmark

    Biografi Zubair bin Awwam: Sang Pemberani Pembela Rasulullah



    Biografi Singkat Sahabat Zubair bin Awwam


    Biografi Zubair bin Awwam ini berisi tentang nama, nasab, dan karakter Sayidina Zubair bin Awwam.

    Dia adalah Zubair bin ‘Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushoi bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay al-Qurasyi al-Asadi. Ibunya adalah Shafiyah binti ‘Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushoi.

    Dengan demikian, nasab Sahabat Zubiar bin ‘Awwam bertemu dengan nabi dari jalur ibu dan ayah.
    goodnewsfromindonesia.id

    Dari jalur ayah bertemu dengan nasab nabi di buyut yang bernama Qushoi bin Kilab. Dari jalur ibu bertemu di kakek yang bernama ‘Abdul Muthollib.


    Ibu Zubair bin Awwam adalah bibi Rasulullah. Dengan demikian, Sahabat Zubair bin Awwam adalah sepupu Rasulullah sekaligus keponakan Sayidah Khadijah, istri Rasulullah saw..

    Sahabat Zubair bin Awwam memiliki nama kun’yah Abu ‘Abdullah. Dinisbatkan pada putranya yang bernama ‘Abdullah. Sedangkan laqabnya adalah Hawari Rasulullah, pembela Rasulullah.

    Laqab ini melekat pada Sahabat Zubair bin Awwam di masa hidup sampai dia meninggal dunia.

    Demikianlah Biografi Zubair bin Awwam. Sahabat Zubair bin Awwam adalah salah satu sahabat Rasulullah yang mendapatkan kabar pasti masuk surga.


    Ketika Iman Mendapatkan Cobaan


    Sub judul dalam tulisan Biografi Zubair bin Awwam ini bercerita tentang perjuangan Sahabat Zubair bin Awwam saat masuk Islam. Sungguh perjuangan luar biasa.

    Sahabat Zubair bin Awwam masuk Islam sejak kecil.  Ada yang mengatakan beliau masuk Islam di usia 8 tahun.  Ada yang mengatakan, 12 tahun. Ada juga yang mengatakan 15 tahun.

    Masuk Islamnya Sahabat Zubair bin ‘Awwam tak lama setalah Sayidina Abu Bakar. Dia orang yang nomer 4 atau nomer 5 pertama yang masuk Islam. Dengan demikian, dia termasuk Sabiqinal Awwalin. Orang yang sangat pertama masuk Islam.

    Sebagaimana para sahabat yang lain, keislaman Sahabat Zubair bin Awwam juga mengalami cobaan. Keislamannya membuatnya disiksa oleh pamannya sendiri. Yakni Naufal bin Khuwailid.

    Waktu itu, Naufal tidak rela keponakannya memeluk Islam. Untuk itu, Naufal membelenggu Zubair dalam penjara. Naufal juga menghidupkan api di dekat Sahabat Zubair bin Awwam. Asap mengepul.  Sahabat Zubair terkena asap itu.

    Akan tetapi, Sahabat Zubair bin Awwam tetap dalam pendiriannya. Walaupun pamannya memaksa, dia tidak mau kembali kafir. “Aku tidak akan kafir selamanya,” kata Zubair bin Awwam tegas[1].





    Ada Ibu Hebat di Belakang Anak Hebat


    Sub judul dalam tulisan Biografi Zubair bin Awwam ini bercerita tentang pendidikan Sahabat Zubair bin Awwam dari sang ibu.

    Alangkah malang nasib Sahabat Zubair bin Awwam. Dia kehilangan kasih sayang sang ayah sejak masih kecil. Dia yatim. Untunglah ibunya masih hidup. Pamannya dari ayah, Naufal bin Khuwailid juga masih sudi mengurusinya. Dari merekalah Zubair bin Awwam kecil mendapat kehangatan kasih sayang dan pendidikan.

    Namun demikian, orang yang paling berperan dalam membentuk kerakter Sahabat Zubair bin Awwam adalah ibu tercinta. Apa lagi dalam masalah keberaniannya. Dia menjadi ‘macan’ karena didikan sang ibu tersebut.

    Konon, dalam mendidik Zubair bin Awwam kecil, sang ibu begitu tegas. Bahkan, sang ibu tidak segan-segan memukul Zubair bin Awwam. Sehingga suatu ketika, sang ibu mendapat teguran dari Naufal bin Khuailid.

    “Bukan begitu cara memukul anak kecil. Kau memukulnya karena marah,” kata Naufal bin Khuwailid pada Shafiyah, ibu Zubair.

    Mendengar teguran itu, Ibu Zubair langsung menjawab, “Orang yang mengatakan saya marah pada Zubair sungguh bohong. Aku memukulnya, hanya karena ingin anakku menjadi pintar dan mampu mempimpin segelepar tentara.[2]

    Ternyata, didikan Sayidah Shafiyah tidak sia-sia. Anak kandungnya benar-benar menjadi “macan “. Sahabat Zubair bin Awwam menjadi orang yang begitu berani. Dia menjadi lawan yang tangguh di medan tempur.

    Bahkan, ketika berumur 8 tahun-an, dia sudah berani menantang paman sendiri, Naufal bin Khuwailid. Hal itu terjadi ketika Zubair masuk Islam dan pamannya itu tidak terima.


    Orang Pertama yang Menghunus Pedang


    Sub judul dalam tulisan Biografi Zubair bin Awwam ini bercerita tentang Sahabat Zubair bin Awwam yang tidak terima Rasulullah ditangkap.

    Kira-kira sudah empat tahun yang lalu Sahabat Zubair bin Awwam memeluk Islam. Sekarang, umur Sahabat Zubair bin Awwam sudah menginjak duabelas tahun. Umur yang relative muda.

    Tapi, kecintaannya pada Baginda Nabi begitu mendalam. Dia tidak ingin Rasulullah saw. disakiti oleh Kuffar Quraisy. Jika mereka berani menyakiti nabi, berarti mereka menabuh gendrang perang dengan Sahabat Zubair bin Awwam.

    Suatu ketika, Sahabat Zubair bin Awwam mendengar kabar tak sedap. Rasulullah saw. ditangkap oleh orang Quraisy, katanya. Sahabat Zubair bin Awwam marah. Bisa-bisanya mereka menangkap Rasulullah saw..

    Maka, Sahabat Zubair bin Awwam langsung menghampiri pedangnya. Beliau hunus pedang itu. Lalu, pergi.

    Ketika berpapasan dengan orang-orang tak dikenal, mereka takjub keheranan. “Anak kecil membawa pedang.” Gumam mereka.

    Sahabat Zubair bin Awwam tak menghiraukan. Dia terus melangkah dan melangkah. Tujuannya adalah melepaskan Rasulullah saw.. Jika perlu, dia juga akan menyabet orang-orang yang kurang ajar itu.

    Tak lama kemudian, Sahabat Zubair bin Awwam sampai di sisi nabi. Betapa bahagianya ketika melihat Rasulullah sehat wal afiat. Dia melihat Rasulullah saw. bebas. Tak tertangkap seperti berita yang tersebar.

    Di sisi lain, baginda nabi merasa heran. Apa yang dilakukan sahabat Zubair bin ‘Awwam? 
    Apa lagi Sahabat Zubair bin Awwam kecil membawa pedang yang terhunus.

    “Zubair, ada apa?” Tanya Rasulullah saw..

    Mendengar pertanyaan itu, Sahabat Zubair bin Awwam langsung menjawab, “Saya mendengar bahwa Engkau ditangkap.”

    “Lalu, apa yang akan kamu lakukan?” Tanya lagi Rasulullah saw..

    “Saya akan menyabet orang yang menangkapmu,” Jawab Sahabat Zubair bin Awwam.

    Lalu, Rasulullah saw. mendoakan Sahabat Zubair bin Awwam dan pedangnya. Menurut ulama sejarawan, pedang Sahabat Zubair bin Awwam itu adalah pedang pertama yang dihunus dalam Islam.[3] Sahabat Zubair bin Awwam juga orang pertama kali yang menghunus pedang.
    ***

    Dalam riwayat lain, ketika berada di Makkah, Sahabat Zubair bin Awwam mendengar bisikan. Rasulullah saw. terbunuh. Sahabat Zubair bin Awwam langsung mengayunkan kakinya cepat-cepat.

    Saking terburu-burunya, beliau tak sempat mengambil baju. Beliau telanjang dada. Pedang berkilau terhunus di tangan beliau. Siap menikam siapapun yang berani bermcam-macam.

    Di tengah jalan, beliau bertemu baginda nabi. “Ada apa wahai Zubair?” Tanya Rasulullah saw..

    “Saya mendengar engkau terbunuh.” Jawab Sahabat Zubair.

    “Terus, apa yang engkau lakukan.”

    “Demi Allah, saya ingin membunuh penduduk Makkah sehingga tak tersisa. Dan mengalirkan darah mereka sepeti aliran sungai,” jawab Sahabat Zubair.

    Mendengar jawaban itu, Rasulullah saw. tertawa. Lalu, Rasulullah saw. melepas selendangnya dan dipakaikan pada Sahabat Zubair.

    Lalu, turunlah Jibril dan berkata, “Sesungguhnya, Allah membacakan salam untukmu. Allah juga berfirman, “Bacakanlah salam untuk Zubair. Dan bahagiakanlah dia bahwa Allah akan memberinya pahala setiap orang yang menghunus pedang di jalan Allah swt. mulai anda diutus hingga hari kiamat. Tak kurang sedikitpun. Karena dia adalah orang yang pertama kali yang menghunus pedang di jalan Allah Azza Wa Jalla.”[4]




    Menghadiri Pertempuran Raja Najasyi Sendirian


    Sub judul dalam tulisan Biografi Zubair bin Awwam ini menjelaskan tentang pengorbanan Sahabat Zubair bin Awwam untuk teman-temannya.

    Orang-orang Quraisy memang berhati batu. Sama sekali tidak punya rasa kasihan dan iba. Mereka tak henti-henti menyakiti bahkan menyiksa sahabat-sahabat Rasulullah saw.. Oleh karena itu, Rasulullah saw. memerintahkan mereka untuk hijrah ke Habsyah.

    Kala itu, Habsyah dipimpin seorang raja yang adil. Di kemudian hari, raja yang memilki nama Najasyi itu masuk Islam. Bahkan ketika wafat, Rasulullah salat ghaib untuknya.

    Di negeri Habsyah, sahabat-sahabat Rasulullah saw. mendapat perlindungan. Mereka hidup tentram. Raja Najasyi memang raja yang baik. Ketika ada utusan dari Pembesar Quraisy agar mengembalikan sahabat-sahabat Rasulullah, raja yang masih beragama Nasrani itu menolak dengan tegas.

    Hal itu stelah Jakfar bin Abi Thalib menjelaskan perihal Islam dan kenapa Muslimin harus hijrah.

    Di kemudian hari, ketentraman muslimin terusik. Bukan karena raja Najasyi ingin mengusir mereka, tapi karena ada kabar bahawa ada seseorang yang akan menyerang Najasyi. Orang itu ingin merebut tahta.

    Mereka takut kalau-kalau Najasyi kalah dalam pertempuran. Kehawatiran terus mengganggu akal fikiran. Mereka susah. Gelisah.

    Seumpama raja Najasyi kalah, belum tentu raja yang baru mau mengerti keadaan mereka. Bisa jadi raja itu malah mengusir msulimin.

    Untuk memadamkan api pemberontakan, Najasyi  keluar untuk menghadapi orang itu. Muslimin semakin hawatir. Hati mereka getar-getir.

    Yang semakin membuat mereka gelisah adalah begitu sulitnya mendapat informasi. Mereka tidak tahu siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Oleh karena itu, para sahabat mengumumkan. Apakah di antara mereka ada yang berani menghadiri perang.

    “Siapakah yang akan menghadiri pertempuran Raja Najasyi sehingga kita nanti mendapat kabar?” Tanya para sahabat Rasulullah saw..

    Tanpa ragu, Sahabat Zubair bin Awwam menyanggunpinya. “Aku!” Kata sahabat Zubair bin Awwam dengan suara lentang.

    Tampak sekali bahwa Sahabat Zubair bin Awwam seorang pemberani. Padahal, kala itu dia termasuk sahabaat Rasulullah termuda yang ada di Habsyah. Konon, ketika berangkat ke Habsyah beliau berumur 18 tahun.

    Maka, para sahabat meniup Girba untuk alat renang. Lalu, Sahabat Zubair bin Awwam mencebur ke Sungai Nil dan meletakkan Girba itu di dada. Dengan alat itu dia mengapung dan berenang di Sungai Nil. Tujuan Sahabat Zubair bin Awwama adalah medan perang.

    Para sahabat yang lain memandang dari jauh dengan hati harap. Ketika sudah berada di tepi sungai, sahabat Zubair bangkit dan melangkah menuju tempat pertempuran. Para sahabat gelisah. Mereka takut Najasyi kalah. Mereka pun berdo’a bersama. Semuga Allah swt. memenangkan dan menjayakan raja Najasyi.

    Meski telah berdo’a, para sahabat tetap tidak merasa tenang. Pikiran mereka dihantui rasa was-was. Tiba-tiba Sahabat Zubair bin Awwam muncul. Para Sahabat bangkit.

    Ada gelegat ingin tahu di wajah mereka. Mereka menunggu gerangan kabar apa yang dibawa Sahabat Zubair; kemenangan Najasyi atau malah sebaliknya? Entahlah.

    “Bahagilah kalian. Najasyi menang dalam pertempuran. Allah menghancurkan musuhnya,” kata Sahabat Zubair bin Awwam sambil memberi isyarah dengan bajunya. Bahgialah para sahabat.

    Kini harapan  mereka telah tercapai. Sungguh beruntung mereka memilki Sahabat Zubair bin Awwam. Seorang yang sangat pemberani. Setelah kejadian itu, muslimin hidup di Habsyah dengan aman dan tenang.[5]


    Tiada Ragu Mengejar Kafir Makkah


    Sub judul dalam tulisan Biografi Zubair bin Awwam ini menceritakan kesanggupannya terhadap permintaan Rasulullah.

    Keberanian Sahabat Zubair juga tampak dari kehadirannya dalam semua peperangan. Setiap Rasulullah keluar untuk berperang, dia pasti ikut[6]. Dalam perang Badar, dia menjadi pemimpin tentara sayap kanan.

    Konon, dalam perang itu, pasukan muslimin yang berkuda hanya dua orang, yaitu sahabat Miqdad dan Sahabat Zubair bin Awwam.

    Sahabat Zubair bin Awwam juga menghadiri perang Uhud. Dalam perang Uhud ini muslimin mengalami kekalahan. Ketika Orang-orang Quraisy pulang, Rasulullah takut mereka akan kembali lagi dan menyerang Madinah.

    Maka, Rasulullah saw. menyuruh para sahabat untuk membuntuti orang-orang Quraisy.

    “Siapa yang berani membnututi orang-orang Quraisy dari belakang sehingga mereka tahu bahwa kita masih punya kekuatan?” kata Rasulullah saw..

    Maka Sayyidina Abu Bakar dan Zubair bin Awwam langsung bangkit bersama 70 pasukan. Ketika pasukan Quraisy mendengar keberangkatan muslimin, mereka segera pulang.[7]


    Menaiki Benteng untuk Menaklukkan Mesir


    Sub judul dalam tulisan Biografi Zubair bin Awwam ini menceritakan keberanian Sahabat Zubair bin Awwam.

    Bukan hanya itu, pada masa Khalifah Syyidina Umar, Sahabat Zubair bin Awwam juga menampakkan ke beraniannya yang tiada tanding.

    Waktu itu, pasukan Muslimin yang dipimpin Sahabat Amer bin Ash mengepung Mesir. Maka, dengan berani Sahabat Zubair bin Awwam menaiki benteng. Dia tidak takut jika penduduk yang berlindung di dalam benteng menghujaninya dengan anak panah.

    Setelah pasukan melihat aksi Sahabat Zubair bin Awwam, mereka juga ikut naik. Pasukan muslimin pun berhamburan masuk ke dalam benteng.

    Hal itu membuat nyali penduduk mesir ciut. Mereka lari terbirit-birit menuju gerbang yang dikepung Shabat Amer bin Ash. Lalu, mereka mengadakan perdamaian.

    Sedangkan, Sahabat Zubair bin Awwam terus melangkah sehingga akhirnya dia sampai pada pintu yang dikepung Amer bin Ash. Dengan demikian, terbukalah negri Mesir di tangan muslimin[8].

    Begitulah, secuil kisah keberanian Sahabat Zubair bin Awwam. Tentang keberanian Sahabat Zubair, Sayyidina Ali pernah ditanya, “Wahai Abal Hasan, siapakah yang paling berani?”

    “Itu dia, orang yang marah seperti marahnya macan dan melompat seperti lompatan singa,” kata Sayyidina Ali sambil menunjuk Sahabat Zubair bin Awwam.[9]


    Sahabat Zubair bin Awwam Pembela Rasulullah saw.


    Sub judul dalam tulisan Biografi Zubair bin Awwam ini bercerita tentang Sahabat Zubair yang menjadi Hawari Rasulullah.

    Ketika keeksisan muslimin semakin tampak di Madinah, orang-orang Yahudi semakin merasa jengkel. Mereka tidak terima. Namun, untuk menyerang sendiri mereka tidak berani.

    Lalu, mereka melakukan makar untuk menumbangkan kekuasan Islam di Madinah. Maka, pergilah 20 orang dari pemimpin Yahudi ke Makkah. Tujuan mereka untuk memprovokasi orang-orang Quraisy agar menyerang Madinah. Mereka berjanji akan membantu.

    Orang-orang Quraisy pun dengan senang hati mengiakan. Setelah itu, orang-orang Yahudi itu bergegas menuju suku Ghatfan. Di sana, mereka mengajak untuk memerangi Rasulullah saw.. Suku Ghatfan pun menerima ajakan itu.

    Dengan demikian, berhasillah makar Yahudi. Orang-orang kafir bersatu untuk menghancurkan Madinah.

    Setelah Rasulullah saw. mendengar berita terbentuknya pasukan sekutu itu, Rasulullah saw. mengadakan musyawarah tingkat tinggi bersama para sahabat. Beliau berdiskusi bagaimana cara menghadapi pasukan musuh yang begitu besar.

    Salah satu sahabat Rasulullah, Salman al-Farisi mengusulkan agar muslimin menggali parit. 
    Hal itu berdasar pengalaman Sahabat Salman ketika berada di Negrinya, Persia.
    Dulu, ketika Sahabat Salman ada di Persia dan dikepung musuh, maka orang Persia menggali parit. Akhirnya, usulan Sahabat Salman ini diterima oleh Rasulullah saw..

    Setelah menimbang-nimbang kondisi Madinah, Rasulullah saw. bertekad untuk menggali Parit di Utara Madinah.

    Sebab, Madinah dikelilingi kebun kurma, gunung-gunug dan bukit bebatuan. Jadi tentara besar tidak gampang menyerang Madinah. Hanya di utaralah jalan yang bisa dilewati untuk menyerang Madinah. Rasulullah saw. menggali parit di arah Utara.

    Ketika pasukan sekutu sampai di perbatasan Madinah, mereka kaget. Mereka tidak bisa menyerang. Mereka terhalang oleh parit. Untuk menyebrang mereka juga tidak bisa.

    Sebab, pasukan Muslimin siap siaga. Menjag gerak-gerik mereka. Setiap ada orang mendekat untuk menyebrang parit, anak panah akan segera melesat ke arah orang itu.
    Jadi, mereka tidak berani. Keputusan terakhir yang mereka ambil adalah mengepung Madinah. Padahal, sebelumnya mereka tidak pernah berpikir untuk mengepung Madinah.

    Di tengah situasi yang sangat mencekam itu, Yahudi Bani Quraizah melanggar perjanjian. Penghianatan ini menambah beban yang sangat berat pada muslimin.

    Sebab, sewaktu-waktu Yahudi Bani Qurizah bisa menikam muslimin dari belakang. Perkampungan mereka tidak begitu jauh dari Madinah. Apa lagi, anak-anak dan wanita ditinggalkan di Madinah[10].

    Pada perang inilah, Sahabat Zubair bin Awwam mendapat keistimewaan. Sebab, Rasulullah saw. menyebutnya sebagai Hawariy (penolong/pembela) Rasulullah saw..

    Waktu itu, Rasulullah saw. mendapat kabar tentang pengkhianatan Yahudi Bani Quraidzah. Lalu beliau bersabda, “Siapakah yang dapat memberi kabar tentang Yahudi?”

    Mendengar kata-kata itu, Sahabat Zubair bin Awwam langsung berdiri dan berangkat menuju perkampungan Yahudi Bani Quraizah. Hal ini terjadi sebanyak tiga kali.

    Pada kali yang terakhir, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap nabi itu memiliki penolong, sedangkan penolongku adalah Zubair.”[11]


    Kehebatan Ibu Sahabat Zubair bin Awwam


    Sub judul dalam tulisan Biografi Zubair bin Awwam ini bercerita tentang kehebatan ibu Sahabat Zubair bin Awwam.

    Sebagaimana disebutkan di atas, kehebatan dan keberanian Sahabat Zubair bin Awwam tidak terlepas dari pendidikan ibunya. Sang Ibulah yang mencetak karakter pemberani tersebut.

    Ternyata, ibu Sahabat Zubair bin Awwam juga memiliki keberanian yang luar biasa. Keberanian ibu Sahabat Zubair terlihat di saat terjadinya Perang Khandaq. Perang yang juga dikenal dengan perang Ahzab.

    Dalam perang ini Ibunda Sahabat Zubair bin Awwam, Shafiyah binti Abdul Muthallib memiliki andil besar memperkuat pertahanan muslimin di Madinah. Khususnya di benteng bagian perempuan.

    Ketika Yahudi Bani Quraidzah melanggar perjanjian, mereka juga berpartipasi dalam perang ini. Salah satu mereka datang ke Madinah. Dia berputar-putar mengelilingi benteng yang dihuni para wanita dan anak-anak. Entah apa maunya.

    Kelakuan Yahudi itu diketahui oleh Shafiyah, bibi Rasulullah saw.. Shafiyah menaruh curiga pada laki-laki pengkhianat itu. Shafiyah takut dia akan melapor pada komplotannya bahwa para wanita tidak dijaga tentara. Rasulullah dan para sahabat sedang sibuk-sibuknya menghadapi pasukan sekutu.

    Shafiyah berkata pada Hassan bin Tsabit, seorang yang diperintah menjaga benteng, “Wahai Hassan, sebagaimana yang engkau lihat, Yahudi ini mengelilingi benteng. Demi Allah, aku hawatir dia akan mengabarkan kelemahan kita pada komplotannya dari belakang. Rasulullah dan para sahabat sibuk menghadapi musuh. Turunlah! Bunuh dia!”

    Namun, Hassan tidak mengabulkan permintaan Shafiyah. Hassan tidak punya keberanian sedikit pun.

    “Semuga Allah mengampunimu wahai Putri Abdul Muthallib. Demi Allah sebagaimana yang engkau tahu, aku tak bisa,” kata Hassan.

    Ketika mengetahui ketidak beranian Hasan, Shafiyah bertekad turun tangan sendiri. Shafiyah mengambil potongan tiang lalu turun dari benteng. Setelah sampai di hadapan Yahudi, Shafiyah memukul Yahudi itu sehingga meninggal. Lalu, Shafiyah kembali lagi ke dalam benteng.

    “Wahai Hasan, turunlah. Ambillah barang Yahudi itu. Karena sesungguhnya tidak ada yang mencegahku untuk mengambil hartanya kecuali karena dia laki-laki,” kata Shafiyah pada Hasan.

    “Aku tidak butuh wahai putri Abdul Muthallib,” jawab Hasan[12].

    Berkat keberanian Shafiyah itu, orang-orang Yahudi tidak berani mendekati benteng para wanita. Mereka mengira benteng di Madinah dijaga ketat oleh tentara. Sehingga jika ada musuh mendekat, maka tentara itu akan melumatnya.


    Malaikat Turun Menyerupai Sahabat Zubair bin Awwam


    Sub judul dalam tulisan Biografi Zubair bin Awwam ini menceritakan pertolongan Allah di Perang Uhud.

    Keitstimewaan lain yang dimiliki Sahabat Zubair adalah disukai malaikat. Bahkan, makhluk yang tercipta dari cahaya itu pernah meniru pakaian Zubair. Hal itu terjadi pada perang Badar.

    Pada perang itu, pasukan Muslimin hanya kurang-lebih 313, sedangkan tentara musuh sebanyak 1000. Tentu, tanpa pertolongan Allah saw, pasukan sesedikit itu bisa menjadi bulan-bulanan. Mereka bisa dibantai habis-habisa.

    Namun, Allah saw. mengirim pasukan-Nya untuk membantu muslimin. Sehingga muslimin bisa unggul dan menang dalam pertempuran.

    Pada perang itu, Sahabat Zubair menjadi pemimpin pasukan Sayap kanan. Beliau memakai sorban berwarna kuning yang dililitkan. Beliau bertempur dengan gagah berani. Menumpas musuh.

    Pada perang ini tampaklah keistimewaan beliau. Malaikat yang datang untuk membantu muslimin memakai pakaian persis pakaian yang dikenakan Sahabat Zubair; sorban kuning.
    Rasulullah pun membenarkan keistimewaan itu. Kata Rasulullah, “Sesungguhnya Malaikat turun dengan tanda-tanda (menyerupai) Zubair.[13]

    Begitulah biografi dan kisah hidup Sahabat Zubair bin Awwam. Sahabat yang sangat pemberani. Seorang sahabat yang mendapatkan julukan Hawari Rasulullah, pembela Rasulullah sampai wafat.



    [1] تاريخ دمشق (18/  344)
    [2] الإصابة في تمييز الصحابة (2/  554)/ سير أعلام النبلاء (1/  45)
    [3] تاريخ دمشق (18/  344)
    [4] صفة الصفوة (1/  346)  / الرياض النضرة في مناقب العشرة (ص: 306، بترقيم الشاملة آليا)
    [5] سيرة ابن هشام (1/  338)
    [6] المستدرك على الصحيحين للحاكم مع تعليقات الذهبي في التلخيص (3/  407)
    [7] سير أعلام النبلاء (1/  47)
    [8] تاريخ دمشق (46/  157) / البداية والنهاية (7/  112)
    [9] تاريخ دمشق (18/  384)
    [10] Rahiqul-Makhtum
    [11] صحيح البخاري ـ م م (4/  27) ,فتح الباري - ابن حجر (7/  406), مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح (17/  463)
    [12] سيرة ابن هشام (2/  228)
    [13] الطبقات الكبرى:  3\103

    0

    Posting Komentar