Pelajaran dari Penjual Jeruk

Hujan sangat deras. Tampak seorang penjual jeruk berteduh di pelataran Masjid. Buah jeruk yang bergelantung di sisi kanan-kiri jok sepeda dia biarkan diguyur hujan. Saya melihatnya kasihan. Sungguh, perjuangan mencari rizeqi begitu memilukan. Ah, jadi teringat ayah-bunda.

Hujan mulai reda. Tapi, pembeli tidak datang jua. Tukang jual jeruk itu sibuk menimbang buah apel dan anggur. Saya melihatnya sesekali. Tak lama kemudian, dia tampak sarapan. Memakan sangu yang dia bawa dari rumah. “Mas, udah lama tinggal di sini?” tanyanya kepada saya. Saya melihatnya. Menjawab pertanyaannya. “Udah satu tahun mas,” Jawabku.


Selanjutnya, saya menghampirinya. Ngobrol ini-itu. Jujur, saya mendapatkan banyak pelajaran darinya. Dia hanya penjual jeruk? Ya, betul. Tapi, hatinya selalu terpaut kepada Allah. “Secara akal, hujuan seperti ini bisa membuat nangis Mas. Dagangan masih banyak. Belum laku,” ujarnya. “Tapi, kalau kita kembalikan kepada Allah, hati ini jadi lapang. Berarti belum diridai Allah,” lanjutnya.
Saya terdiam. Ada air mata mengintip di celah mata saya. Allahu Akbar. Saya pun sadar. Ternyata benar, tidak selamanya “luar” menunjukkan “dalam”. Boleh saja penjual jeruk, tapi hatinya selalu terpaut kepada Allah.

Lagi, katanya, dia sering menemukan keajaiban ketika menjual jeruk. Kok bisa? Dia yakin, karena berkah tawakkalnya kepada Allah. Suatu hari dia jualan. Ketika jam menunjukkan jam lima sore, dagangannya masih sangat banyak. Dia pun pasrah. Hatinya bergumam, “Ya Allah, saya sudah ikhtiar. Dagangan saya masih banyak. Terserah engkau.” Lalu, dia beranjak ingin pulang. Tiba-tiba ada yang memanggil. Ingin membeli. Ada hajatan, katanya. Dagangannya pun habis karena pembeli tadi butuh banyak. Allah…

Bahkan, dia yakin pertemuan saya dengannya tidak kebetulan. Pasti ada hikmah. Saya mengiakan. Ada rencana Allah di balik pertemuan saya dengannya. Mungkin, sebagai tambahan pengalaman kepada saya.
***
Ada pelajaran lain dari tukang jeruk itu buat saya. Metode mengajar di TPQ. Metodenya begini: dalam pembelajaran al-Qur’an harus ada target. Semisal empat bulan ada kenaikan jilid. Agar anak-anak semangat. Juga, ketika proses belajar-mengajar anak-anak dikasih tugas menulis. Agar tidak ramai. Misalnya, ketika ada salah satu anak sudah menyetorkan bacaan, dia jangan dilepas begitu saja. Tapi, diberi tugas menulis. Satu halaman cukup. Dengan begitu, anak-anak akan selalu punya kegiatan. Akhirnya, tidak memiliki waktu untuk ramai atau bergurau.

Selain itu, dia juga mengatakan berjuang harus totalitas. “Berjuang jangan setengah-setengah. Hasilnya juga setengah-setengah,” ujarnya. Otak saya jadi berputar. Sudahkah saya totalitas? Sudahkah saya tidak setengah-setengah? Allah, ighfirli…..

“Berjuang di jalan Allah itu akan mendapat rizeqi min haitsu la yahtasib,” katanya. “Tapi jangan thoma’. Harus ikhlas!!” lanjutnya.

“Jangan lihat orang yang ngomong,” ujarnya ketika ingin berangkat. “Enggeh, akan saya jadikan ini pelajaran buat saya,” jawab saya.
Semoga bermenfaat!!!

Related

My Story 2867129904757853491

Post a CommentDefault Comments

emo-but-icon

Toko Buku

Toko Buku
Buku anak. Cerita bergambar. Diskon menjadi Rp. 120.000 sampai 31 Oktober.

Populer

Terbaru

Profil

item