Ngajari Anak Cerdas, Jadi Pengen Punya Anak Cerdas

Syukur tiada henti saya ucapkan. Alhamdulillah, Alhamdulillah. Allah sering mempertemukan saya dengan orang ‘hebat’. Orang yang memiliki kelebihan. Dan dari sanalah saya mendapatkan pelajaran-pelajaran hidup.

Seperti kisah di bawah ini.

Berawal dari teman saya yang melamar kerja. Semua persyaratan dia lengkapi, semua ketentuan dia jalani. Seperti wawancara dan tes tulisnya. Tentunya, dia bertemu dan bersinggungan dengan orang yang bertanggung jawab atas tes-tes itu. Anggaplah bos gitu, karena memang ada di ‘atas’.


Nah, bosnya itu mencari guru bahasa Arab dan ngaji. Dan meminta teman saya untuk mencarikan di UIN. Maklumlah, orang-orang mengerti begituan pastilah anak-anak mahasiswa Islam. Khususnya di UIN.

Teman saya bertanya kepada saya apa saya bisa mengajar Bahasa Arab. Saya jawab, Insyaallah bisa. Karena memang dulu saya pernah kursus bahasa Arab bahkan pernah tinggal di maskan (asrama) yang sehari-hari berbahasa Arab. Jadi saya tidak sungkan untuk bilang iya.

Saya pun akhirnya bertemu dengan bosnya teman saya itu.

Saya dipanggil ke ruangannya. Juga teman saya. Saya ngobrol dengan dia. Sedangkan teman saya dan temannya mengisi lembar tes tulis. Bos ini kelihatan sekali leadernya, jiwa kepemipinannya. Ucapannya tegas, apa yang dia mau dia katakan apa adanya, dan sesuai penuturannya dia suka diskusi.

Saya pun di-tes ngaji. Saya baca surat al-Waqiah. Dienak-enakkanlah suara saya. Biar diterima. Saya hanya geli saja, baru sekarang saya di-tes untuk jadi guru private. Tak apalah. Setidaknya, ini membuktikan, orang yang ada di hadapan saya orang professional. Dan pastinya ingin menjadi yang terbaik untuk anaknya.

Setelah saya membaca beberapa ayat, saya disuruh berhenti. Bos itu menerima saya untuk jadi guru ngaji anaknya. Katanya, dia mengakui bacaan al-Quran saya. Al-Hamdulillah, semoga menjadi kegiatan positif saya di sela-sela kuliah. Untung-untung bisa mendapat pahala dari Allah. Untung-untung lagi bisa menjadi sedekah jariyah.

Saya pun mulai ngajar. Sekarang sudah mendapat satu bulan lebih. Dan tentunya sudah mendapat bisyarah. Hehehe… Maaf, saya terpaksa menceritakan yang ini. Sepertinya saya memang tidak ikhlas mengajar. Ada setitik keinginan untuk mendapat ‘bisayarah’ di hati saya.

Makanya, kadang saat saya mau berangkat ngajar, saya berniat begini; jika saya ngajar karena uang, saya niatkan uang itu untuk kebaikan, untuk kuliah, untuk meringankan beban orang tua. Mudah-mudahan dengan niat itu saya tetap mendapat pahala. Amin..

Kata hadis kan, setiap pekerjaan tergantung niatnya. Jika niatnya baik, baiklah amal itu. Dan sebaliknya. Juga ada makalah begini, “Betapa banyak amal akhirat bisa menjadi amal dunia karena niatnya jelek. Dan sebaliknya.” Kok banyak “sebalik”nya sih?

Misalnya, di hati saya ada riya’, saya tetap ngajar kok. Pokoknya tetap ngajar. Sebab, mengajar bagi saya itu sebenarnya belajar lagi. Mengulangi apa yang pernah saya pelajari. Lagi pula, banyak pengalaman yang saya dapat dari mengajar itu, meski –misalnya- riya’.

Apa lagi kata salah satu makalah ulama, “Tidak beramal karena takut riaya’ itu namanya riya’.” Bingunng kan?  Saya juga bingung apa maksudnya. Coba tanya ke ustad terdekat ya.

Setelah saya mengajar, ternyata anaknya cerdas. Cepat hafal, dan tak gampang lupa. Memang kata si ayah, anaknya itu tidak tahu hanya jika tidak diajari. Lah iya pastilah. Wong tidak diajari, pasti tidak tahu. Maksudnya mungkin, anak itu cerdas tidak lemmut.

Bukti kecerdasannya, selama satu bulan dia sudah hafal dan tahu membedakan hukum nun mati dan tanwin, nun dan mim bertasydid, Qalqalah, dan mim mati. Coba dibayangkan. Cerdas bukan ? Padahal saya ngajarnya satu minggu tiga kali. Setiap pertemuan 1 jam. Anaknya masih kelas 4 SD.

Cerdas bukan ? Kalau saya sih ngakui dia cerdas. Kok gitu ? Sepengalaman saya ngajar, sedikit anak yang seperti dia. Rasa-rasanya memang gampang saya mengajarnya. Ditambah lagi dia kritis. Kalau saya mengajarinya, kemudian ada hal yang mengganjal, pasti ditanyakan ke saya.

Usut punya usut, ternyata kecerdasannya memang ada latar belakangnya. Katanya, selama hamil, si ibu anak itu tidak pernah lepas dari surat Yusuf dan Maryam setiap selesai sholat. Oh, jadi gitu. Ditambah lagi adiknya. Sang ayah malah mentirakatinya. Katanya si ayah tidak pernah ketinggalan puasa senin-kamis selama satu tahun.

Ya pantaslah kalau begitu. Ditambah lagi, katanya, buyutnya adalah orang yang ditokohkan. Katakanlah kiai. Ya pantas sajalah kalau gitu.

Kadang saya mengangan-ngangan sambil berharap, semoga anak saya besok cerdas, cepet hafal, hafalannya cekket, nurut orang tua, dan sholeh-sholehah tentunya. Ah, ini nilai plus mengajar anak cerdas. Jadi terbayang punya anak cerdas. 

Sudahlah. Semoga saja anak kita cerdas, sholeh-sholehah, dan menjadi yang bisa dibanggakan. Ya jangan lupa juga, kita harus mentirakatinya. Setidaknya kita berdoalah setiap selesai sholat.

ربنا هب لنا من أزواجنا وذريتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين اماما


Sumber foto http ://www.allfun.md/article/46322 

Related

My Story 1212844007404431892

Post a CommentDefault Comments

Koment yuk!!

emo-but-icon

Ads

Hot in week

Recent

Comments

randomposts
item