Pesan Sayidina Ali: Jangan Terlalu Cinta, Jangan Terlalu Benci!

loading...

Pernah nggak sih, kamu mencintai seseorang dengan secinta-cintanya? Cinta itu dalam banget. Ingin selalu bersamanya. Ingin selalu melihatnya. Jika sehari saja tidak berjumpa, rindunya tiada tara. Pernah?

Saking cintanya, kamu merasa di dunia ini tidak ada yang berharga lagi selain dia. Sekolah nggak penting. Pelajaran di kelas nggak jadi prioritas. Bahkan, kamu ingin melakukan apa saja untuknya. Walaupun bertentangan dengan nurani dan akal sehat.


Nah, itu tanda kamu terlalu cinta. Cintamu over. Kalau saya baca di media-media online, terlalu cinta itu malah bahaya. Nggak bagus untuk kesehatan. Eh, kok kayak bahasa dokter sih.


Maka benar kata Sayidina Ali. Jangan terlalu cinta. Versi arabnya:

أحبب حبيبك هوناً ما عسى أن يكون بغيضك يوماً ما ، وأبغض بغيضك هوناً ما عسى أن يكون حبيبك يوما ما

(Ahbib habibaka haunam ma, ‘asa an yakuna baghidhoka yaumam ma. Wa abghid baghidhoka haunam ma, ‘asa an yakuna habibaka yaumam ma)


Artinya: Cintailah kekasihmu sedang-sedang saja! Karena bisa saja suatu hari akan menjadi musuhmu. Bencilah pada musuhmu sedang-sedang saja! Karena bisa saja suatu hari menjadi kekasihmu.









Ada yang bilang, kalam hikmah ini hadis. Sabda Rasulullah. Tapi banyak ulama hadis yang menentang. Menurut Imam Turmudzi, yang benar bukan hadis, tapi perkataan Sayidina ‘Ali.

Kalam hikmah di atas memberi nasehat jika mencintai seseorang, jangan keterlaluan. Jangan terlalu cinta. Jatuh cintalah sewajarnya saja. Secantik apa pun kekasihmu, seganteng apa pun kekasihmu, cintailah sewajarnya.

Karena bisa jadi suatu hari kekasih itu malah jadi musuh. Bisa jadi loh ya. Dan faktanya banyak yang demikian.

Ada yang punya mantan? Dulu saat baru jadian, wuih dipuja setinggi langit. Padahal cuma pacar. Ketika sudah jadi mantan, dicaci seakan tidak berharga sama sekali. Ada kan?

Kalau pacaran lalu terjadi saling beber kejelekan setelah jadi mantan, tak apalah. Anggap itu azab. Hehe… Maaf… terlalu banyak lihat film azab. Jadi kebawa-bawa dalam tulisan.

Ada juga suami-istri yang begitu loh. Saat baru menikah, duh pasangannya sangat sempurna. Tak ada dunya. Kentut harum seperti bau nangka. Tapi ketika ada masalah dan berujung cerai, jadilah musuh. Saling sebar kejelekan. Saling tuding. Dan seterusnya.

Padahal kata ulama yang dikutip oleh Sayid Thonthowi dalam Al-Wasith, orang yang berakal tidak mungkin menyebarkan kejelekan mantan suami/istrinya.

Ada cerita, suatu ketika ada seseorang yang terpaksa bercerai dengan istrinya. Lalu ada yang bertanya, kenapa bercerai? Seseorang itu menjawab, “Orang yang berakal sehat tidak mungkin menyebarkan kejelekan mantan istrinya”.

Yah mau gimana lagi. Kalau hati sudah benci. Padahal dulu saling mencintai. Cinta oh cinta. Kenapa kau gampang sekali sirna.

Sebaliknya, jika membenci, bencilah sewajarnya. Jangan terlalu benci. Karena siapa tahu orang yang kamu benci kelak malah engkau cintai. Mungkin loh ya. Sangat mungkin. Bahkan banyak terjadi. Dulu benci, eh sekarang malah jadi suami-istri.

Kata Ibnul ‘Arabi, ketika membahas kalam hikmah Sayidina ‘Ali di atas, hati itu ada dalam kekuasaan Tuhan yang Maha Kasih. Allah gampang saja membolak-balikkannya. Kadang mencintai, kadang membenci. Maka, mencintalah dan membencilah yang sewajarnya saja.

Syaikh Al-Munawi, dalam at-Taysir Bi Syarh Jami as-Shoghir, juga mengatakan tidak semua cinta abadi. Cinta bisa berubah karena masa yang berganti. Cinta kadang jadi benci. Maka cintalah sewajarnya. Biar tidak menyesal ketika cinta itu sudah jadi benci. Bencilah sewajarnya. Agar tidak malu ketika benci berubah menjadi mencintai.

Ya, terlalu cinta itu bahaya. Terlalu benci juga bahaya. Bikin kita sengsara. Bahkan bisa membuat kita binasa.

Ada seorang tokoh sufi, Imam Hasan Al-Bashri juga mewanti-wanti, jika terlalu cinta dan terlalu benci maka akan membinasakan diri. Beliau mengatakan:

أحبوا هوناً ، وأبغضوا هوناً ، فقد أفرط أقوام في حب أقوامٍ ، فهلكوا ، وأفرط أقوام في بغض أقوام فهلكوا.

“Cintalah kalian biasa-biasa saja. Bencilah kalian biasa-biasa saja. Sungguh ada sebuah kaum yang terlalu cinta, maka mereka binasa. Ada juga sebuah kaum yang terlalu benci, maka mereka binasa.”

Jika merenungi dawuh Al-Bashri ini, terlalu cinta atau terlalu benci bukan hanya bikin menyesal dan malu, tapi juga membahayakan diri. Bisa membuat diri hancur dan binasa. Sama dengan yang ditulis oleh penulis modern, terlalu cinta itu negatif.

Sayidina Umar juga ikut berkomentar dalam masalah ini. Sahabat nabi yang perkasa tapi ‘takut istri’ ini mencoba memberi gambaran cinta dan benci yang keterlaluan.

Baca juga:

Berikut percakapan beliau bersama salah satu sahabatnya:

Sayidina Umar berkata kepada Aslam, “Wahai Aslam… Jangan sampai cintamu memaksa dan bencimu membuat binasa!”

Aslam bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi?”

Sayidina Umar menjawab, “Jika kau mencintai, jangan seperti anak kecil yang memaksa ingin mendapatkan apa yang dia cintai. Jika membenci, jangan membenci sampai engkau ingin orang yang kau benci hancur dan mati.

Baca juga:

Maka, sepertinya kita perlu berdoa agar hati tak ke mana-mana. Cukup untuknya saja. Selamanya. Doa yang diajarkan agar hati istikamah dan tidak ke mana-mana saya tulis di bawah ini:

اللهم ثبت قلبي على دينك
(Allohumma Tsabbit Qolbi ‘Ala Dinik)
                                                       Artinya: “Ya Allah, tetapkan hatiku pada agamamu!”

Terakhir, izinkan aku berdoa, “Ya Allah… tetapkan hatiku hanya untuknya. Tetapkan cintanya hanya untukku. Selamanya.”
Salam!

Related

Nongkrong 3214247881629742308

Post a CommentDefault Comments

emo-but-icon

Ads

Hot in week

Recent

Comments

randomposts
item