-->
lm2ehI3jonma4uzm1pDxTuKLeJW1muj7wMTB5q1K

Ngaji[combine]

Baper[oneright]

Review[oneleft]

Cerpen[three](3)

Lifestyle[hot](3)

Kisah[two]

Aksara[dark](3)

    Page

    Bookmark

    4 Cara Hidup Minimalis dalam Jiwa dan Raga agar Hidupmu Bahagia


    Ingin hidup minimalis? Kalimat “Hidup minimalis” sepertinya lagi ngetrend. Banyak orang yang memperbincangkannya. Banyak pula yang menginginkan.

    Saya juga ingin membahasnya. Karena tema ODOPISB hari ini adalah “Gaya Hidup Minimalis”. Hehehe..


    Sebelumnya saya memang pernah membaca kalimat “Hidup minimalis” ini. Teman saya yang menulis di medsosnya. Katanya, dia ingin hidup minimalis.

    Ada yang bilang, hidup minimalis itu hidup dengan gaya sederhana. Sesuai kebtuhan. Tidak berlebihan. Dan seterusnya.

    Gaya hidup menimalis ini sebenarnya bisa dikembangkan tidak hanya dalam masalah finansial atau barang-barang yang kasat mata. Tapi, juga bisa dikembangkan lagi sampai ke masalah jiwa (hati).

    Tidak hanya gaya hidup yang minimalis, tapi hati juga minimalis. Cara berfikir juga minimalis. Tujuannya agar bahagia. Seperti apa pun keadaannya, hati tetap bahagia.

    Bagaimana caranya? Berikut penjelasannya.

           1.     Menerima dan legowo apa saja yang diberikan oleh Allah kepada kita

    Cara yang pertama ini gaya hidup minimalis yang berkaitan dengan hati. Ya, hati. Hati kita menerima apa saja yang diberikan Allah kepada kita. Entah itu banyak, sedikit, memuaskan, tidak memuaskan, dan seterusnya.

    Hal ini bisa dilakukan dengan cara, “Bersyukur dan bersabar”. Bersyukur jika membahagiakan hati, bersabar jika mengecewakan hati.

    Gaya hidup minimalis seperti ini adalah gaya hidup orang yang beriman. Sebagaimana dalam sebuah hadis:

    “… Jika dia (orang yang beriman) mendapatkan kebahagiaan, dia bersyukur. Hal itu baik baginya. Jika dia tertimpa kesedihan, dia bersabar. Hal itu baik baginya.” (HR. Imam Muslim)

           2.     Pengeluaran disesuaikan dengan pemasukan

    Nah, cara hidup minimalis yang kedua adalah bisa mengatur keuangan dengan benar. Hal ini bisa dengan menghitung-hitung pemasukan. Lalu, pemasukan itu dijadikan patokan pengeluaran.

    Baca juga:

    Jika pemasukannya 4 juta dalam satu bulan, pengeluarannya di bawah pemasukan itu. Sisanya ditabung.

    (Padahal saya sendiri kadang tidak sempat nabung. Karena ada kebutuhan lain.) Hehehe. Astaghfirullah.

           3.     Membeli barang yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan

     Ini juga penting. Kita pasti memiliki keinginan-keinginan. Ingin ini dan itu. Tapi, apa yang kita inginkan belum tentu sangat dibutuhkan. Makanya, gaya hidup minimalis itu hanya berbelanja jika butuh.

    Bagaimana kalau kebutuhannya banyak? Bisa dimulai dari yang paling dibutuhkan. Lalu yang di bawahnya dan seterusnya. Tentunya melihat keuangan juga.

    Ndak masalah bilang, “Beli besok-besok aja kalau ada uang.” Hehe… Dasar misikin!.

           4.     Terlalu ngirit akan bikin rumit

    Ngirit memang penting. Bahkan harus. Tapi, terlalu ngirit juga rumit. Sedang-sedang sajalah. Setiap sesuatu yang sedang-sedang, Insyaallah baik. Jika memang butuh dan uang ada, ya beli.

    Baca juga:

    Terlalu ngirit malah bikin rumit. Terlalu ngirit sampai makannya tidak stabil, malah bikin sakit.
    Jika memang uang itu waktunya habis, ya pasti habis. Pasti ada saja yang mengharuskan kita mengeluarkannya. Tapi bukan berarti tidak perlu mengaturnya.

    Ada seseorang bilang ke saya, “Memegang uang itu seperti memegang merpati. Tidak boleh terlalu longkar, nanti bisa lari. Tidak boleh terlalu erat, nanti bisa mati.”

    Itulah gaya hidup minimalis dalam jiwa dan raga. Jiwa bahagia karena legowo dan menerima (qanaah) pada pemberian Allah. Raga juga bahagia karena kehidupan berjalan sesuai keuangan dan kebutuhan. Salam!

    1

    1 komentar

    • adhealbian
      adhealbian
      16 Januari 2020 pukul 00.53
      Intinya tetep harus selalu beryukur yah kak dan semua nya balik lagi harus disesuaikan dengan kebutuhan.
      Reply