-->
lm2ehI3jonma4uzm1pDxTuKLeJW1muj7wMTB5q1K

Ngaji[combine]

Baper[oneright]

Review[oneleft]

Cerpen[three](3)

Lifestyle[hot](3)

Kisah[two]

Aksara[dark](3)

    Page

    Bookmark

    Kenapa Kurikulum Pesantren Tidak Berubah-ubah?

     Saat itu sedang membahas mata kuliah “Pengembangan Kurikulum”. Dosen mempersilahkan kami untuk bertanya.

    “Kenapa kurikulum pesantren bisa bertahan dan menghasilkan lulusan yang kompeten? Padahal kurikulum mereka jadul dan tidak pernah berubah?”

    Begitulah kurang lebih pertanyaan salah satu teman saya. Saya pun siap-siap menyimak jawaban Prof. yang mengajar saya itu. Saya penasaran, kira-kira kenapa pesantren bisa demikian?

    Uniknya pesantren/hmass.co

    Dosen saya itu pun menjawab, tapi tidak membuat saya berhenti penasaran. Jawabannya masih kurang buat saya.

    Saya mencoba analisis sendiri dengan bekal pengalaman saya saat di pesantren. Lalu saya membuat kesimpulan sendiri, “Di pesantren tidak hanya diajari ilmu, tapi juga memperaktekkan ilmu itu”.

    Setelah dipikir-pikir lagi, jawaban ini terlalu sederhana dan umum. Masih belum bisa menjawab pertanyaan saya.

    ***

    Suatu ketika, saya ngobrol dengan teman sebaya. Kita sama-sama alumni pesantren. Kita bercerita ke sana ke mari. Tentang karya, tentu juga asmara. Kemudian dia bercerita mengenai keikhlasan seorang guru di salah satu pesantren.

    Kisahnya, dulu sekitar tahun 2007 (atau tahun berapa gitu, saya lupa), madrasah di pesantren itu mendapatkan bantuan dari pemerintah. Para pengurus pun mengadakan rapat. Diikuti para guru madrasah pesantren itu.

    Diputuskanlah sebuah keputusan, dana bantuan itu akan diberikan pada guru sebagai bisyarah. Sebelumnya para guru mendapatkan bisyarah 400 ribu setiap bulan. Setelah mendapat bantuan itu, bisyarah guru bertambah menjadi 1100.000.

    Namun, kemudian ada salah satu guru yang bersuara. Dia tidak berkenan bisyarahnya ditambah.

    “Sebelumnya saya diberi bisyarah 400 ribu. Itu cukup untuk kebutuhan saya, istri, anak, dan semuanya. Jadi saya tidak akan menerima uang sebanyak itu. Aku takut nikmat dari uang 400 ribu itu dicabut oleh Allah gara-gara saya mendapatkan bisyarah sebanyak itu,” kata guru itu.

    ***

    Saya menyadari satu hal, inilah rahasia kekuatan pesantren. Yaitu kekhilasan. Mengajar bukan semata-mata karena uang. Mengajar karena ingin rida Tuhan. Saya kira, kisah ini hanya satu kisah dari 1000 kisah keunikan pesantren.

    Oea, saya juga pernah mendapat cerita. Entah dari siapa dan pesantren mana. Saya lupa. Tapi, ceritanya tentang kurikulum pesantren.

    Suatu ketika, ada seorang bertanya pada pengasuh salah satu pesantren besar. Pertanyaan itu seputar kurikulum, kenapa kurikulum di pesantrennya tidak pernah diganti, padahal pemerintah sudah beberapa kali mengganti kurikulum?

    Pengasuh itu menjawab dengan tenangnya, “Kurikulum di pesantren ini sudah diterapkan sejak dahulu kala dan terbukti dapat melahirkan santri yang alim. Pemerintah masih coba-coba. Bagaimana saya mau mengganti kurikulum yang sudah terbutkti dengan kurkulum yang masih coba-coba?”

    Nah, begitulah saya kira, kenapa pesantren bisa melahirkan orang alim meski kurikulumnya tidak pernah diganti.

    Namun sebenarnya, pesantren itu tidak anti perubahan kok. Pesantren memiliki prinsipi, “Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik”.

    Wallahu A’lam….

     

    Posting Komentar

    Posting Komentar