Galau Karena Takut Tidak Sukses

Saya baru kembali dari Madura. Sumpek, galau, susah, dan apalah. Saya hawatir tidak jadi "orang". Pekerjaan tidak punya. Prediksinya hanya mengajar yang gajinya tidak seberapa. Karena bukan PNS. Jika demikian, kapan berkeluarga?


Di sisi lain, saya sadar, masa depan tidak hanya dunia, tapi juga akhirat. Masa depan di dalam kubur dan masa depan akhirat nanti setelah kiamat. Lah, saya tidak punya bekal untuk masa depan akhirat itu. Waylah....

Saya juga teringat keluarga. Ayah, ibu, saudara-saudara, kakek-nenek, dan lainnya. Saya berpisah dengan mereka. Seakan tidak ada waktu untuk berjumpa. Padahal, mereka pasti begitu menyayangi saya. Ah, hidup ini.

Selain itu, saya hidup di Suarabaya. Pulang sebentar saja. Hanya sehari. Hal itu membuat saya jarang bertemu dengan teman Desa. Kenalan pun tidak bertmabah. Malah berkurang. Lantas, kalau saya hidup di Madura, saya tidak punya "bangsa". Tidak punya jaringan. Uh, saya harus memulai dari awal.
Lagi, kapan saya berkeluarga? Itu belum saya reka-reka waktunya. Padahal, umur sudah mulai menua. Saya masih menunggu sukses. Suksessnya kapan? Entahlah. Saya tidak tahu.

Pokoknya, detik ini saya benar-benar galau. Jalan menuju "sukses" buram. Harapan satu-satunya adalah tulis-menulis saya. Selain itu, tak ada.
Mudah-mudahan Allah memberi kegalauan kepada saya sebagai pemecut semanagat untuk sukses. Bukankah susah yang membuat semangat itu lebih baik dari pada optimis yang membuat lalai? Bukankah Allah Ta'ala itu bersama orang yang patah hatinya karena susah?

Semangat....!!!

Related

My Story 7916639469139506692

Post a CommentDefault Comments

emo-but-icon

Toko Buku

Toko Buku
Biografi Syaikh Yasin Al-Fadani, ulama Nusantara yang mendunia. Rp. 55.000

Hot in week

Recent

Comments

randomposts

Profil

item