[Puisi] Menunduk Meski Emas Menjadi Tanduk


Masih ingatkah kau pada pagi itu?
Dari sanalah cerita kita menyatu
Lewat serpihan-serpihan aksara yang kutulis dengan riang syahdu

Kita terus bercerita
Kusisipkan namamu di setiap episodenya
Kau isyaratkan namaku di setiap kalimatnya

 
Merenungi filosofi padi. Salah satu sawah di Banyuwangi.

Saat itu, huruf menyungging tawa
Tawa berbuah asa
Tentang kita di depan sana


Masih ingatkah kau pada sawah yang membentang di dekat rumah?
Berselimutkan padi yang menghijau sangat indah
Menunduk khusyuk meski emas menjadi tanduk
Kujenguk setiap pagi
Kujenguk lagi setiap mata hari meninggi
Lalu, kujenguk lagi setiap sore hari
Karena di sanalah aku mengukir hari esok kita
Dengan tinta cinta yang kuperas dari lubuk hati paling purna

Masih ingatkah kau pada sungai yang memanjang di antara dusun kita?
Airnya sebening embun
Batu-batunya menghampar permadani anggun
Di sanalah kuukir nama kita
Di setiap batu yang terlihat memesona

Aku dan dirimu elang yang terbang
Mengitari awan
Semoga sampai di ujung hujan

Aku padamu…
Dirimu?
Ah…

Related

Aksara 5106236603243643553

Post a CommentDefault Comments

emo-but-icon

Toko Buku

Toko Buku
WA: 0878-6870-9737

Terbaru

Hot in week

Profil

Contact Us

Name

Email *

Message *

Komunitas

FLP
item