Cewek Kolot vs Cewek Moderen


salehah   |  Tulisan ini tidak dumaksudkan untuk menilai seorang wanita. Tulisan ini mungkin hanya ingin menjlentrehkan segelintir keinginan laki-laki terhadap wanita. Berawal dari curhat-curhatansama teman akrab. Waktu itu, saya dan dia duduk-duduk melepas lelah. Kami mengobrol. “Kamu boyong mau kemana?” tanya temanku. “Insyaallah mau menikah.” Jawabku. “Oea, sebenarnya wanita idamanmu seperti apa sih?.” Tanya sahabatku itu. “Andai bisa, saya akan mencari santriwati yang satu pondok. Kalau tidak bisa, yang penting santri.” Singkatku. “Kok bisa gitu?” selidiknya. “Saya pernah nanya pada KH. Abdurrahman Syakur tentang jodoh. Beliau bilang, kalau bisa, cari yang satu pondok. Kalau gak bisa ya yang penting santri.” Jelasku. “Hanya itu?” Kejarnya. “Mmmmmm... pengennya sih... wanita yang tidak pernah disentuh tangan jahil.” Jawabku.


Susana mulai sedikit ramai oleh bunyi sandal santri. Kami masih asik ngobrol sambil menunggu waktunya nge-tes. “Kalau wanita yang tidak pernah disentuh laki-laki insyaallah masih ada bahkan mungkin masih banyak.” Celetuk sahabatku itu mengiakan keinginanku. “Yang sulit itu, wanita yang gak pegang HP. Aku pernah ngobrol sama temen-temen, katanya dia pengen wanita yang tidak pegang HP, yang tidak punya FB dan apalah. Menurutku laki-laki seperti itu gila. Sekarang ini sudah bukan jamannya seperti itu. Kalau saya sendiri, pengennya wanita yang tidak terlalu kolot. Dia aktif di media sosial, seperti FB dan Twiter, tapi digunakan dengan baik. Tidak hanya untuk memajang foto. Kalau ngaplowdfoto hanya sekedarnya saja. Sekarang kan cewek yang rajin di Fb hanya dibuat narsis-narsisan. Sedikit-sedikit ngaplowd foto, ah.” Jelasnya kesal. “Wanita seperti itu jarang kan.” Selaku.

Menurut temanku itu wanita yang tidak memegang HP berpotensi besar untuk terikut derasnya kenegatifan HP atau Jejraing Sosial. Bisa saja ketika menjadi istri kita dan memilki kesempatan untuk ber-HP dan bermedia sosial, dia akan selingkuh atau apalah yang dilarang norma sebagai istri dan agama. Beda dengan wanita yang memang sudah aktif di jejraing sosial misalnya, tapi dari awal digunakan dengan baik, dia sudah tahan banting. Dia akan bisa mengelak dari keburukan jejaring sosial. Sebab dia sudah tahu negatif dan positif Jejaraing sosial. Alasan yang tepat bukan?

Diam-diam ada gejolak meletus dalam batinku. Keinginan temanku dan keinginanku begitu berbeda. Aku ingin wanita yang tidak ngewu HP, apalagi punya akun FB dan saudara-saudaranya. Aku memponis wanita yang seperti itu wanita yang tidak salehah. Menurutku wanita yang tidak memegang HP bukan kolot tapi hadiah terindah untuk suaminya kelak. Gila kan? Kenapa aku punya pandangan begitu? Karena setahuku, media-media yang disebut tadi hanya dibuat menggait cowok. Nah, cewek yang tidak memegang HP akan selamat dari tudingan itu. Cowok gak berpengalaman bukan? Biarlah. Kemudian, mengenai pendapat temanku yang mengatakan bahwa wanita yang terbiasa memegang HP dan aktif di jejaring sosial tidak akan terikut kenegatifannya, selingkuh misalnya, ada pertanyaan besar mengenai pendapat itu, “Apa benar wanita itu sengaja menghindar dari kenegatifannya atau karena sudah tuwuk alias sudah bosan? Hanya reka-reka.

Selain itu, dalam usul fiqih ada kaidah ‘Saddan Li Dzara’ik’, menutup rapat-rapat sesuatu yang berpotensi menyebabkan terjebur dalam dosa. Apakah kaidah itu juga tidak bisa diterapkan dalam masalah ini? Artinya, ketika HP atau jejaring sosial itu rentan menyebabkan ke-negatifan, apakah tidak sebaiknya tidak digunakan. Ah, alasan yang dipaksakan.
Lalu, yang lebih tepat pendapat temanku atau pendapatku? Tidak ada yang paling benar dan tidak ada yang paling salah. Masing-masing pendapat itu memiliki sisi yang berbeda. Akan tetapi, kalau dibanding-banding, pendapatku termasuk pendapat paling gila. Mengharapkan ada setan di siang bolong. Sebab, wanita yang rela jauh dari HP, akun FB, wa akhwatuha itu hampir punah, meski sebenarnya masih ada. Pendapat temanku gila juga nggak? Gila juga, tapi dikit. Sebab, wanita yang tidak pernah pacaran meski lewat HP, FB, Wa Akhwatuha itu juga hampir tidak ada. Mungkin 1 dalam 1000. Sama gilanya dong.  

Sebenarnya, muara dari dua pendapat itu satu, yaitu Wanita Sholeha. Temanku dan aku sama-sama menginginkan wanita yang salehah. Titik. Aku yakin, pendapat-pendapat yang ada, ketika bertabrakan dengan konsep utama yaitu Wanita salehah pasti kalah. Misalnya aku, aku ingin wanita yang tidak megang HP, tapi suatu ketika aku berjumpa dengan wanita yang menggunakan HP dan jejaring sosial dengan baik, pasti aku menerima dengan senyum mengembang. Karena keinginanku istri salehah. Temanku pasti juga begitu. Dia menginginkan wanita yang megang HP, tapi andaikan suatu ketika dia ditawari wanita yang sama sekali tidak kenal HP apalagi jejaring sosial, terlebih wanita itu hafal al-Qur’an, saya yaqin dia pasti menganggut-ngaggut sampai bebeberpa kali. Karena keinginannya satu, Istri Salehah.
So, intinya salehah dimanapun dan kapanpun. Di Dumay (dunia maya) salehah. Di Dunya (dunia nyata) salehah.

@saif_elsyadiri & @arozdaq

Lasiyama, 8, Dzul Hijjah, 1435 H.

Related

My Story 3011541600616640303

Post a CommentDefault Comments

emo-but-icon

Toko Buku

Toko Buku
Biografi Syaikh Yasin Al-Fadani, ulama Nusantara yang mendunia. Rp. 55.000

Hot in week

Recent

Comments

randomposts

Profil

item