Mondok; Sulit Menjalaninya, Asyik Mengenangnya

Mengingat masa-masa di pondok pesantren rasanya gimana gitu. Ada rasa sedihnya. Ada rasa rindunya. Dan, apalah. Mengingat masa-masa itu tidak ada bosannya. Bahkan, andaikan bisa, ingin merasakannya lagi meski sekejap saja.  Padahal, saat mondok, berat sekali. Apa lagi ketika baru kembali, ingin sekali waktu pulangan segera tiba. Di pondok tidak kerasan. Benarlah kata guru saya, Mas Dwy Sa’doelloh. Kurang lebih beliau pernah mengatakan begini, “Mondok itu sulit saat menjalaninya, asyik saat mengenangnya.” Saya yakin, setiap alumni pesantren pasti merasakan seperti ini.


Kalau diingat-ingat, semua kegiatan di pesantren menjadi kenangan terindah. Saat jam belajar. Saat kursus. Saat sekolah. Saat ngaji Al-Quran di pesarean. Saat antri di jading. Saat berdesak-desakan membeli makan. Saat dibangunkan oleh pengurus pada jam 3:30 malam. Itu semua kenangan. Kenangan yang tidak mungkin terlupakan. Dan, ketika mengingatnya, senyam-senyum. Bahkan, kalau ada teman yang sama alumni, sambil ketawa-ketawa.

Sepengalaman saya, ketika saya baru mondok, yang paling membahagiakan adalah hari pulangan. Ketika kaki ini melangkah keluar dari pesantren sambil menggendong tas, rasanya bahagia sekali. Kebahagiaan itu sulit saya tulis. Bahagianya seperti apa? Sulit. Pokoknya bahagia.

Ketika sudah lama mondok, kebahagiaan saya tidak lagi terletak pada hari pulangan, tapi pada sesuatu yang lain. Mungkin, pada waktu itu saya mulai memiliki keinginan ini dan itu. Sehingga ketika mendapatkannya, saya bahagia luar biasa. Contohnya, saya senang sekali bermusyawarah. Dalam bahasa gaulnya, diskusi. Saya ingin sekali menjadi peserta musyawarah yang aktif bicara. Jika saya menjadi mujib(penjawab), selalu ada argumen sekaligus pijakan untuk mempertahankan pendapat saya. Jika menjadi mu’tarid (penentang pendapat anggota diskusi yang lain), saya selalu memiliki argumen sekaligus pijakan untuk memtahkan pendapat lawan. Pada saat itulah, kebahagiaan tiada tara saya rasakan. Ada rasa puas dalam hati. Tentu, sebelum berdiskusi saya belajar terlebih dahulu. Agar bisa menjawab pertanyaan sekaligus melumpuhkan jawaban lawan.

Selain itu, kebahagiaan bisa saya rasakan ketika belajar tidak faham. Maksudnya? Tidak faham kok bahgaia. Maksudnya begini. Ketika saya belajar kitab fikih, misalnya. Ketika membaca teks, tidak faham. Saya ulangi lagi. Tetap tidak faham. Lalu membuka syarahnya. Tetap tidak faham. Lau membuka kitab yang lain. Kemudian, Allah memahamkan saya. Waktu itulah saya senang bukan kepalang. Bahagia. Bahagia sekali. Ada rasa lega di hati. Andaikan saya umpamakan, bagai duduk-duduk di bawah pohon rindang. Melihat pemandangan indah. Dengan semilir angin yang membelai-belai tubuh. Sejuk. Sebenarnya, ketika belajar dan langsung faham, juga ada kebahagiaan di hati. Puas rasanya. Tapi, kebahagiaannya tidak sebesar ketika tidak faham lalu faham.


Itulah sekelumit kenangan ketika berada di pesantren. Masih banyak kenangan-kenangan indah lainnya. Suka maupun duka. Namun, secara garis besar, hidup di pesantren itu sulit. Banyak peraturan. Tidak bebas. Harus begini. Harus begitu. Ketika boyong dari pesantren, kehidupan sederhana itu begitu saya rindukan. Sampai kapanpun saya tidak akan melupakan. Pun pula saya tidak akan bisa merasakannya kembali. 

Related

My Story 4251994951495298978

Post a CommentDefault Comments

emo-but-icon

Toko Buku

Toko Buku
Biografi Syaikh Yasin Al-Fadani, ulama Nusantara yang mendunia. Rp. 55.000

Hot in week

Recent

Comments

randomposts

Profil

item