6 Hadits Tentang Keharusan Memuliakan Perempuan


Allah menciptakan laki-laki dan perempuan bukan untuk lawan yang saling bertengkar. Tapi, lawan untuk saling memadu kelebihan.

Allah tidak lebih mengutamakan salah satunya. Keutamaan dan kelebihan menurut Allah hanya dengan takwa.

Kadang, ada saja yang menuduh Islam itu diskriminatif kepada perempuan. Islam lebih mengunggulkan laki-laki.



Tuduhan seperti ini bisa saja dikarenakan belum menyelami syariat Islam. Atau mungkin karena terpengaruh pemikiran barat yang memang perempuan di sana memiliki sejarah kelam.

Nah, berikut ini hadits tentang keharusan memuliakan perempuan.

Surga Ada dalam Rido Seorang Ibu

جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم - يعني جاهمة - فقال : يا رسول الله ، أردت أن أغزو فجئتك أستشيرك ، فقال : « هل لك من أم ؟ » قال : نعم ، قال : « فالزمها ، فإن الجنة تحت رجليها

“Seorang laki-laki mendatangi baginda Rasulullah saw.. Nama dari Laki-laki itu adalah Jahimah. Lalu si laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah, aku ingin berperang (berjihad di jalan Allah), aku datang ingin meminta arahanmu.”

Kemudian Baginda Nabi bertanya kepada laki-laki itu, “Apakah ibumu masih ada?” Si laki-laki menjawabnya, “Iya.” Rasulullah pun memberinya wejangan, “Maka, tetap tinggallah membersamai ibumu, karena sesungguhnya surga berada di bawah kedua kakinya.” (HR. Imam Baihaqi)

Hadis tentang keharusan memuliakan perempuan yang pertama ini berbicara tentang seorang ibu. Bahwa ibu itu derjatanya sangat mulia. Ibu memiliki jasa yang tak terhingga kepada kita.

Maka, kewajiban seorang anak adalah berbakti kepadanya. Ketika kita berbakti, maka ibu akan rida dan sayang kepada kita. Dengan demikian, kita akan mendapatkan surga.

Itulah kenapa kemudian Baginda Nabi Muhammad mengatakan “Surga ada di bawah kaki ibu”.
Bagaimana dengan bapak? Sebenarnya sama saja. Tidak ada bedanya. Kita juga wajib berbakti kepadanya.

Hanya saja, berbakti kepada ibu itu lebih diutamakan. Mendatapkan rida ibu juga lebih diutamakan. Ibu dulu baru bapak. Kenapa? Karena ibu adalah perempuan.

Ya, perempuan yang mengandung kita, melahrikan kita, menyusui kita, merawat kita, dan seterusnya. Al-Quran membahasakannya dengan “Wahnan ‘Ala Wahnin”. Derita di atas derita.

Penjelasan hadits tentang keharusan memulikan perempuan ini bisa ditengok dalam kitab Mirqat Al-Mafataih, karya Syaikh ‘Ali al-Qari. Juga bisa dilihat dalam Hasyiyah as-Sanadi ala Ibn Majah, karya Muhamad bin ‘Abdul Hadi as-Sanadi.


Hanya Laki-Laki Mulia yang Memuliakan Perempuan

خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلى ما أكرم النساء إلا كريم ولا أهانهن إلا لئيم

“Paling baiknya kalian ialah paling baiknya kalian kepada keluarganya. Dan aku paling baiknya kalian pada keluargaku. Tidak memuliakan perempuan kecuali laki-laki yang mulia. Tidak menghinakan perempuan kecuali laki-laki hina.” (HR. Imam Hakim)

Hadits tentang keharusan memuliakan perempuan yang kedua ini berbicara tentang perempuan yang menjadi istri.

Dalam hadits ini Rasulullah menjelaskan, bahwa laki-laki terbaik adalah laki-laki yang paling baik kepada keluarganya. Tentu, dalam hal ini Rasulullahlah yang paling baik pada keluarganya.

Rasulullah kemudian melanjutkan, jika ada laki-laki (suami) yang memuliakan perempuan (istri), maka dia laki-laki mulia. Sebaliknya, jika dia menghinakan perempuan, berarti di laki-laki hina.

Sebenarnya, sangat banyak hadits-hadits tentang keharusan memuliakan perempuan. Terutama bagaimana nabi memperlakukan istri-istrinya.

Misalnya, nabi selalu memperhatikan keadaan istri-istrinya. Nabi juga pernah meminum dari gelas yang masih ada bekas minumnya Sayidah ‘Aisyah.

Ada pernyataan menarik dari Imam Ibnu al-‘Iraq yang dikutip Imam al-Munawi dalam kitab Fayd al-Qadir.

Kutipan yang sebenarnya dari Imam Malik ini dijabarkan ketika menjelaskan hadits tentang keharusan memuliakan perempuan ini.

Bunyi kutipannya:

يجب على الرجل أن يتجنب إلى أهل داره حتى يكون أحب الناس إليهم

“Wajib bagi seorang laki-laki (suami) berhubungan badan dengan istrinya. Sehingga si suami menjadi orang yang sangat dicintai olehnya.”


Jika Kau Mencintai Kelebihannya, Kau Harus Menerima Kekurangannya

لا يفرك مؤمن مؤمنة إن كره منها خلقا رضي منها آخر أو قال غيره

“Tidak boleh orang laki-laki yang beriman membenci perempuan yang beriman. (Karena) apa bila dia membenci suatu budi pekerti darinya (perempuan yang beriman itu), dia (pasti) meridai (menyukai) budi pekerti yang lain….” (HR. Imam Muslim)

Hadits tentang keharusan memuliakan perempuan yang ketiga ini menjelaskan tidak ada orang perempuan yang sempurna. Juga tidak ada perempuan yang 100% penuh kekurangan.
Mereka pasti memiliki dua sisi; kelebihan dan kekurangan.

Imam Nawawi menulis saat menjelaskan hadits tentang keharusan memuliakan perempuan ini, bahwa tidak seharusnya laki-laki (suami) membenci istrinya lantaran menemukan akhlak buruk pada dirinya.

Sebab, selain memiliki akhlak buruk, sang istri juga pasti memiliki akhlak yang baik. Misalnya, dia besar mulut, tapi dia iffah (setia dan menjaga diri dari jemahan orang lain).

Hal yang serupa juga untuk laki-laki (suami). Tidak ada suami yang sempurna. Pasti demikan adanya!

Oea, ada tulisan bagus neh dari Syaikh ‘Ali al-Qari ketika mensyarahi hadits tentang keharusan memuliakan perempuan ini. Kata beliau:

فإن أراد الشخص بريئا من العيب يبقى بلا صاحب

 “Jika kamu ingin teman (pasangan) yang tidak memiliki kekurangan, maka kamu akan men-jomblo selama-lamanya.” wkwkwkwk

Anak Perempuan adalah Penyejuk Jiwa

لا تكرهوا البنات فإنهن المؤنسات الغاليات

 “Janganlah engkau membenci anak perempuan. Karena sesungguhnya mereka adalah sumber bahagia yang mahal harganya.” (Imam Ahmad bin Hambal)

Mungkin kita pernah mendengar bagaimana nasib anak perempuan dalam masyarakat Arab sebelum Islam datang. Punya anak perempuan itu seperti punya aib. Makanya, kemudian anak perempuan ada yang dikubur hidup-hiudp.

Ketika Islam datang, mindset itu ditolak mentah-mentah. Malah Rasulullah mengungkapkan hadist tentang keharusan memuliakan perempuan di atas.

Kata Rasulullah, perempuan itu permata yang tiada tara harganya. Anak perempuan itu sumber tawa dan bahagia.

Sayidina Muawiyah pernah mengatakan yang dikutip al-Munawi dalm Fayd al-Qadir, bahwa tidak ada satupun yang mampu meringankan kesedihan dari pada anak perempuan.


Pahala untuk Orang yang Merawat Anak Perempuan

من عال ثلاث بنات فأدبهن وزوجهن وأحسن إليهن فله الجنة

“Barang siapa yang menanggung nafkah untuk tiga anak perempuan, lalu dia mendidik mereka, menikahkan mereka, dan berbuat baik kepada mereka, maka baginya adalah surga.” (HR. Imam Ahmad bin Hambal)

Hadits tentang memuliakan perempuan ini menjelaskan ganjaran untuk siapapun yang menanggung kebutuhan hidup anak perempuan.

Jika dia mendidiknya dengan baik, menikahkannya, dan berbuat sebaik-baiknya kepadanya, maka Allah menjanjikan surga untuknya.


Pahala untuk Orang yang Memberi Nafkah untuk Saudari

ليس أحد من أمتي يعول ثلاث بنات أو ثلاث أخوات فيحسن إليهن إلا كن له سترا من النار

“Tidak ada seorang pun dari umatku yang menanggung nafkah tiga anak perempuan atau tiga suadari perempuan, lalu dia laku baik kepada mereka kecuali mereka akan menjadi perisai baginya dari api neraka.” (HR. Imam Suyuthi)

Hadits tentang keharusan memuliakan perempuan yang terakhir ini untuk saudara laki-laki.

Jika mereka menanggung nafkah untuk tiga suadarinya, maka Allah akan mencatat kebaikan-kebaikan ini. Kelak di akhirat, kebaikan-kebaikan itu akan menjadi perisai baginya dari apa neraka.
Dengan kata lain, dia akan selamat dari api neraka. (al-Jami as-Shaghir: 2/250)

Nah, itulah kawan, hadits tentang keharusan memuliakan perempuan. Mulai dari perempuan sebagai ibu, istri, anak, dan saudara.

Astaghfirullah minal qaul wa qablal amal….

*Tulisan serupa pernah dimuat di IDN Times dengan judul  "Buat Cowok, 6 Hadis Ini Mengajarimu untuk Memuliakan Perempuan". Namun, di blog ini tulisannya lebih lengkap.


Related

Ngaji 523052541054348928

Post a CommentDefault Comments

emo-but-icon

Terbaru

Hot in week

Profil

Contact Us

Name

Email *

Message *

Komunitas

FLP
item