Ada yang Ingin Dilupakan, tapi Tidak Terlupakan

"Ada kalanya belajar bukan bertujuan agar pintar, tapi agar tahu."

Ya, begitulah kesimpulan saya saat mengajar bapak-bapak atau ibu-ibu.

Sejak semester tiga, saya mulai mengajar ibu-ibu. Lebih tepatnya bukan mengajar sih. Tapi belajar. Saya belajar tentang banyak hal.


Waktu itu, kitab yang saya baca adalah kitab hadis Arbain Nawawi. Karya ulama besar Imam Nawawi. Dulu kitab itu saya pelajari waktu kelas 6 MI.


Agar penjabarannya luas, sebelum membacakan kitab itu saya belajar dulu. Saya buka-buka "Syarah"nya. Utamanya kitab Fath al-Mubin. Karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami.

Kata salah satu ibu, awal-awal saya kaku banget. Hehe... Tapi, di akhir-akhir malah ketawa-ketawa bareng. Ini salah satu pelajaran.

Akhir-akhir ini, saya belajar bareng tidak hanya dengan ibu-ibu. Ada bapak-bapak juga.

Kitabnya bukan hadis, tapi Alquran. Kita belajar terjemah Alquran perkata. Metodenya menggunakan Metode SAFINDA.

Ada juga penjelasan ayat di akhir-akhir pembelajaran. Tentu, saya baca-baca Tafsir terlebih dahulu. Takut salah mengartikan ayat.

Tafsir yang sering saya baca, Tafsir al-Baidhowi, Tafsir Ibnu Katisr, al-Baghawi, al-Maraghi, dll.

Belajar bareng ibu-ibu dan bapak-bapak ini gimana gitu. Tidak sama dengan mengajar anak MI, remaja, atau mahasiswa.

Bapak-bapak dan ibu-ibu itu cepat lupa. Apa lagi mengenai terjemah dari lafaz Arab di Alquran.

Maklum ya.... Bapak-bapak dan ibu-ibu itu kan sudah banyak pikiran. Memikirkan anak-anak, cucu, pekerjaan, dan banyak lagi.
Jadi maklumlah kalau cepat lupa.

Ditambah,  daya ingat sudah tidak muda lagi. Ingatannya tak lagi kuat.

Kadang, ada saja bapak-bapak yang nanya, "Bagaimana caranya agar tidak lupa?"

"Kita ulang-ulang...."  saya jawab.

Setiap memasuki pelajaran baru, kita mengingat pelajaran minggu sebelumnya. Itu pun sudah banyak yang lupa.

Apa lagi dua minggu sebelumnya. Atau selebihnya.

Pernah suatu ketika, saya coba menanyakan lafaz-lafaz di surah Al-Fatihah. Wah, lupa. 90% sudah tidak ingat.

Pada akhirnya, tujuan belajar tarjim Alquran ini bukan agar pintar menerjemah Alquran. Tapi, yang penting ikut. Setelah itu, siapa tahu bisa sedikit mengerti. Apa lagi, diterangkan juga mengenai tafsirnya.

Namun, jangan dikira, "lupa" itu tidak masalah. Maslahnya besar. Lupa itu bikin ibu-ibu dan bapak-bapak itu putus asa. Dan nggak ikut belajar lagi.

Saya sering bilang, jika kita lupa, ya tidak apa-apa. Namanya juga manusia. Bahkan kata saya, kadang lupa itu perlu disyukuri.

Saat saya bilang begitu, mata bapak-bapak dan ibu-ibu itu berbinar. Seakan ada yang menguatkan. Ada juga yang tersenyum.

Kenapa lupa itu kadang perlu disyukuri? Karena kadang ada seseorang yang ingin kita lupakan, tapi tidak bisa terlupakan.

Nah, Mbak-mbak yang masih jomblo dan kebetulan ikut belajar, dia senyum-senyum saat mendengar ucapan saya itu... Hehe

Yes berhasil. Sebab, diantara tugas saya selain membacakan arti, juga bikin mereka tersenyum. Kalau bisa, sampai ketawa. Biar suasananya tidak membosankan.

Diantara 'penyakit' belajar yang perlu kita syukuri adalah ngantuk. Ya, jangankan bapak-bapak dan ibu-ibu, remaja dan anak muda juga ngantuk kok saat belajar.

Kenapa ngantuk itu perlu kita syukuri, karena ada banyak orang yang tidak bisa ngantuk. Jika mau tidur, harus minum obat tidur dulu.

"Kalau bapak-bapak dan ibu-ibu di sini kan tidak usah obat. Cukup ambil materi pelajaran. Buka. Tak selang beberapa lama, sudah ngantuk. Nikmat sekali."

Mereka tertawa ketika mendengarkan celutukan saya. Dan yang ngantuk, jadi nggak ngantuk lagi. Hehehe

Makanya, setan itu walau pun pintar dan cerdas bisa kita tipu kok. Yaitu saat kita ingin tidur, kita ambil saja buku bacaan. Kita baca, setelah lima menitan, buku itu sudah terjatuh. Hehehe

Atau, dengarkan saja muratal atau ceramah. Sambil tidur-tiduran. Pasti tuh ketiduran beneran. Hehehe

Alhamdulillah, bisa nipu setan...

Related

My Story 6313870884330211583

Post a CommentDefault Comments

emo-but-icon

Toko Buku

Toko Buku
Sinopsis atau mau pesan: silahkan klik gambar!

Populer

Terbaru

Profil

item