Tuhan... Izinkan Aku Patah Hati Berkali-Kali

loading...

Patah hati? Duh, sakit rasanya. Mau ngapa-ngapain tiada bergairah. Mau begini malas, begitu malas. Kalau cewek, palingan nangis.

Seakan dunia ini berhenti berputar. Cita-cita dan asa memudar. Keinginan hambar. Entahlah.

Hati memang menjadi pusat gerak. Jika hati berhenti, maka berhentilah sendi-sendi tubuh ini. Cieh ......

Foto: jawapos.com

Katanya, hati itu seperti lampu. Jika bercahaya, maka teranglah area sekitarnya. Jika hatinya baik, maka baik pulalah aktivitas yang lahir dari pemilik hati itu. Dan sebaliknya.

Makanya, jika hati patah, patahlah semuanya. Padahal, dunia ini luas, tidak sesempit daun kelor men...


Masih banyak kok orang yang peduli kepadamu. Bahkan mungkin jatuh hati kepadamu. Tapi, dia juga patah hati karenamu.

Ada satu hal yang aku tahu dari sebuah rasa, bahwa bersama orang yang mencintai kita itu lebih nyaman dari pada bersama orang yang kita cinta tapi tidak mencintai kita.
Hehehe... Pengalaman guys...

Namun, patah hati tidak selalu begitu kok. Kadang, patah hati malah membuat diri lebih hati-hati. Kadang juga, membuat diri lebih produktif.

Karena patah hati, lahirlah sebuah puisi indah luar biasa. Karena patah hati, lahirlah buku yang melegenda. Karena patah hati, lahirlah karya yang mendunia.

Bisa jadi, tulisan ini juga lahir dari patah hati. Ya, bisa jadi. Makanya, aku ingin patah hati berkali-kali. Biar karyaku lebih banyak lagi. 😂

Lagian, patah hati itu gak negatif. Asal bisa memenej diri. Bahkan, patah hati itu disayang Allah. Benneran! Sumpah!

Allah pernah bilang begini:

 أَنَا عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ أَجْلِي

Artinya: Aku berada di sisi orang yang patah hatinya karenaku.

Hadis Qudsi ini -seingatku- ada dalam Kitab Bidayah al-Hidayah. Karya Imam Al-Ghazali.

Jadi, Allah itu senang jika ada hambanya yang patah hatinya karena Allah. Misalnya, dia terjerumus dalam dosa, lalu dia menyesal dan sedih luar biasa.

Dia bermunajat, minta ampun, bersandar, dan pasrah hanya kepada Allah. Dia merasa dirinya penuh dosa dan terhina, makanya dia kembali ke Allah.

Dari sini muncul sebuah ungkapan ulama sufi, "Dosa yang membuatmu terhina itu lebih baik dari pada ibadah yang membuatmu merasa sempurna."

Mungkin juga, kita pernah dengar bahwa Rasulullah pernah berdoa agar Allah menjadikannya orang miskin.

Nabi berdoa:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا ، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا ، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: Ya Allah... Hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikan aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku dalam golongan orang-orang miskin di hari kiamat. (HR. Imam Turmudzi)

Hadis ini kaitannya dengan hati yang patah. Nabi berdoa agar menjadi orang miskin, karena orang miskin itu selalu patah hati dan pasrah diri kepada Allah.

Orang miskin dalam hadis di atas adalah orang miskin kepada Allah. Merasa butuh kepada Allah. Allah segalanya. Allah menjadi sandarannya. Pokoknya Allah terus.

Maka, jika ada orang miskin, tapi hatinya tidak terpaut kepada Allah, berarti tidak termasuk dalam hadis di atas.

Terakhir, aku berdoa, Tuhan izinkan aku patah hati berkali-kali. Patah hati yang bikin produktif. Patah hati yang membuat diri dekat kepada-Mu. Salam! Sahabatmu.

Related

Nongkrong 7605359429498418803

Post a CommentDefault Comments

emo-but-icon

Ads

Hot in week

Recent

Comments

randomposts
item