Kehilangan Sandaran

Dulu, di awal-awal kuliah, saya ngekos di tempat yang jauh banget dari kampus. Saya diajak kakak alumni pondok ngekos di tempat kosnya, sambil jaga musholla.

Saya mau. Pertimbangannya, ada sedikit pemasukan untuk jajan kuliah. Juga, ingin sedikit berkhidmah.

Kehilangan sandaran/freepik


Saya senang sekali waktu itu. Kakak alumni itu menjadi motivator yang terus mengobarkan semangat saya.

Apa yang saya alami di kampus, apa harapan saya, apa cita-cita saya, saya ceritakan kepadanya. Dia asyik dan selalu mensuport.

Memang tidak setiap hari bertemu. Apa lagi dia mulai sibuk. Banyak kegiatannya, banyak tanggung jawabnya, dan banyaklah.

Yang jelas, dia pernah bercerita, saat tidur pun pikirannya terasa menjelajahi tanggung jawabnya. Mencari celah untuk menyelesaikan masalah.

Lama-kelamaan, semakin sibuk. Saya juga semakin banyak kegiatan. Jarang bertemu. Hingga akhirnya dia menikah.

Setelah menikah, dia benar-benar (seakan) menghilang. Ditambah, dia pindah kos. 

Saat itu, saya merasa kehilangan sandaran.

Sebab, di musholla itu, seperti ombak yang riuh. Ada saja angin yang membuatnya membuncah.

Ya, waktu itu saya merasa kehilangan sandaran. Tak ada lagi yang bisa saya tanyai pendapatnya atau saya mintai motivasinya.

Syukurnya, kita masih bertemu di tempat lain. Meski dengan suasana berbeda.

Ada satu motivasi yang sampai sekarang saya ingat darinya. Tentang surah al-Fatihah. 

Katanya, setiap mau berangkat ke kampus atau ingin beraktifitas, dia bilang negini, "Sukses, Al-Fatihah".

Katanya, Al-Fatihah itu pembuka. Pembuka kesuksesan.


Dan... Sekarang, lagi-lagi merasa kehilangan sandaran; kamu. Entahlah....



Related

My Story 5679701466923799343

Posting KomentarDefault Comments

emo-but-icon

Hot in week

Terbaru

Profil

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Komunitas

FLP
item